Kamis 26 Nov 2015 17:59 WIB

Tahun Abu Madinah

Rep: c38/ Red: Agung Sasongko
Kota Madinah tempo dulu.
Foto: Wikipedi.org/ca
Kota Madinah tempo dulu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tanah berbongkah kering kerontang. Rerumputan layu kekuningan. Gersang dan penuh abu. Bilamana angin bertiup, abu beterbangan ke mana-mana sampai orang menamai tahun itu "Tahun Abu" (Aam Ramadah).

Hujan sama sekali tak mengguyur Semenanjung Arab selama sembilan bulan. Musim paceklik tiba.

Segala usaha pertanian dan peternakan hancur total. Hewan ternak kurus kering. Unta dan domba tak mampu menghasilkan susu.

Walau tak urung, para penduduk mencari sisa-sisa panen mereka yang gagal atau menyembelih ternak yang tak lagi berdaging.

Kelaparan di mana-mana. Pasar sepi sebab tak ada lagi yang akan diperjualbelikan. Uang pun tak berarti apa-apa. Tak ada yang dapat dibeli untuk sekadar menyambung hidup.

Pada permulaan musim paceklik, keadaan penduduk Madinah masih lebih baik. Madinah adalah sebuah kota makmur. Penduduknya biasa menyimpan cadangan makanan. Ketika musim kemarau tiba, cadangan itu dikeluarkan.

Lain halnya dengan kaum Arab Badui dan pedalaman. Tak ada yang dapat mereka simpan sehingga sejak mula mereka telah berbondong-bondong ke Madinah.

Mereka datang meminta bantuan Umar bin Khatab, yang ketika itu menjabat sebagai pimpinan tertinggi umat Islam, sekadar mencari remah-remah yang dapat dimakan. Lambat laun, gelombang pengungsi ke Madinah makin tak tertahankan.

Bencana kelaparan mulai mengancam penduduk kota, sedangkan hujan tak kunjung turun.

Peristiwa itu terjadi tahun 17 Hijriyah. Kaum Muslim telah menaklukkan Syam dan Irak. Penduduk Madinah dan kota-kota sekitar sudah mampu meningkatkan taraf kesejahteraan. Barang-barang dagangan dari Yaman, Syam, dan Mesir didatangkan lewat kapal.

Berita kemenangan kaum Muslim di medan pertempuran pun selalu terdengar. Karena itu, paceklik menjadi ujian sangat berat bagi penduduk Semenanjung Arab.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement