Rabu 07 Feb 2018 09:37 WIB

Ironi Keterbukaan

Dengan membaca statusmu, kamu telah membuka aibmu sendiri.

Facebook
Foto: EPA
Facebook

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Abdul Muid Badrun

"Jarimu harimaumu". "Saring sebelum sharing". Begitu pesan bijak yang sering kita baca. Benar, media sosial (medsos) memberikan perubahan luar biasa atas perilaku kita. Sekali klik, informasi itu langsung tersebar bebas tanpa kendali. Apa pun bisa dilakukan hanya dengan satu-dua jari.

Namun, sayangnya, kebebasan itu sering kali digunakan secara tidak bertanggung jawab oleh sebagian besar kita. Akibatnya, terjadilah ironi keterbukaan. Kebebasan yang disalahgunakan akan menjadi “bom waktu” bagi peradaban sampah di Bumi Indonesia. Hal ini bisa dibaca dengan jelas dalam Alquran surah ar-Ruum: 41.

Ketika kita memilih demokrasi sebagai induk aturan maka keterbukaan adalah anaknya. Demokrasi tanpa keterbukaan bagai keluarga tanpa anak. Sepi, sunyi, kosong tanpa makna. Namun, jika keterbukaan ini menjadi-jadi tanpa kendali maka menjadi ironi. Setiap orang akan menjauhinya jika terus begini. Karena tidak ada yang bisa dipercaya. Lahirlah social unrest (keresahan sosial) akibat berita dan informasi palsu (hoaks). Inilah cikal bakal revolusi jika tidak segera diantisipasi.

Setiap orang bebas bicara, mencela, memfitnah, membuat berita palsu, menuduh, bahkan mengadu domba satu dengan lainnya. Dulu, pada masa penjajahan Belanda, jelas musuhnya. Jelas yang diperangi, jelas yang diserang. Sekarang, semuanya makin tidak jelas (absurd). Akibatnya, teman menjadi lawan dan lawan pun malah menjadi teman. Etika kesopanan dan kesantunan menulis status tidak ada lagi. Murid menantang guru berdebat, santri mengolok-olok kiai, ulama dirisak, anak dan orang tua tak lagi saling hormat, dan masih banyak lagi akibat ironi keterbukaan ini.

Karena itu, bagi para facebookers, kendalikan jarimu untuk hal-hal yang bermutu. Bagi netizen, ayo lawan segala keburukan di media sosial dengan gerakan menebar kebaikan (#akubisaberbuatbaik). Mulailah dari diri sendiri dulu, teman, keluarga, tetangga, desa, dan terus kita kawal sampai bangsa ini menjadi lebih baik. Karena, kata-katamu mencerminkan siapa sebenarnya dirimu. Ini sesuai dengan peringatan Nabi: “Seorang Muslim adalah seorang yang mampu menjaga tangan dan lisannya dari mengganggu Muslim lainnya.” (HR Bukhari Muslim).

Tak perlu psikotes macam-macam untuk tahu siapa dirimu. Dengan membaca statusmu, kamu telah membuka aibmu sendiri. Membuka karaktermu, sifatmu, dan profilmu. Maka, (sekali lagi) jaga jari-jarimu! Agar tidak sampai membunuhmu. Saring sebelum sharing, agar yang keluar hanya kebaikan dan kebenaran. Bukankah kesalahan menulis status yang diulang dan dibagikan terus-menerus setiap hari akan menjadi "kebenaran" baru? Inilah yang membahayakan peradaban hidup kita.

Karena itulah, menyikapi ironi keterbukaan ini, selain mengendalikan diri untuk tidak memunggah hal-hal buruk adalah diam. Jika kita tak mampu berbuat baik, jangan malah berbuat buruk, tetapi bersikap diam adalah jihad terbaik.

Seperti pesan agung Nabi Muhammad, "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau (jika tidak bisa) diam itu jauh lebih baik." (HR Bukhari). Namun, jika diam saja kita tak mampu melakukannya maka sejatinya kita tak pantas disebut manusia. Lalu, kita lebih pantas disebut apa?

sumber : Pusat Data Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement