Sabtu , 12 August 2017, 19:57 WIB

Indikasi Hati Sehat

Red: Agung Sasongko
Blog.febc.org
Pertobatan yang sungguh-sungguh dan disertai penyesalan pasti diterima Allah SWT.
Pertobatan yang sungguh-sungguh dan disertai penyesalan pasti diterima Allah SWT.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Imam Nawawi


Hati adalah organ tubuh manusia yang menjadi pusat kendali pikiran, perasaan, dan perbuatan setiap Bani Adam. Rasulullah SAW menegaskan, jika baik hati seseorang akan baik seluruh tubuhnya. Sebaliknya, jika tidak baik hati seseorang akan rusak seluruh tubuhnya.

Sistem penjelas dari ungkapan Nabi SAW tersebut, dapat kita pahami secara gamblang di dalam Alquran. "Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada." (QS al-Hajj [22]: 46).

Dalam tarikan logika paling sederhana dapat dipahami bahwa hati yang rusak, apalagi mati, tidak akan mampu menjadikan seseorang berfungsi pemikirannya. Sehingga, mustahil hatinya dapat memahami segala sesuatu, bahkan pendengaran pun tidak akan berfungsi sebagaimana mestinya. Lebih jauh, tidak ada gunanya mata kepala yang bisa melihat, jika mata di dalam hati telah buta.

Orang yang hatinya demikian, hidupnya akan dipandu oleh hawa nafsu, egoisme, syahwat, dan segala hal yang menimbulkan mafsadat, baik kecil maupun besar.

"Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya." (QS al-Ahqaaf [46]: 26).

Dalam kata yang lain, jika seseorang, kecenderungannya menjauh dari syariat Allah, enggan, malas, apalagi sampai membangkang dan menentang, maka dapat dipastikan hatinya dalam kondisi sakit yang sangat parah. Segala sisi kehidupannya tidak akan pernah mendatangkan ketenteraman. Karena hati tidak mengingat Allah. Padahal, mengingat Allah adalah kunci ketenteraman hati.

Artinya, indikasi hati sehat atau sakit sangat sederhana, yakni apakah ada rasa ingin yang kuat untuk mengingat Allah. Dan, hati yang baik, pasti akan selalu mengingat Allah, sebab ketenteraman hidup tidak mungkin diraih melainkan dengan semata-mata hanya mengingat Allah Taala.

"(Yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram." (QS ar-Ra'd [13]: 28). Dan, tiadalah hati akan dapat mengingat Allah dengan baik dan meraih ketenteraman yang didambakan tanpa benar-benar mencintai, memahami, dan mengamalkan kandungan Alquran.

Hati yang demikian adalah hati yang tidak saja menenteramkan pemiliknya, tetapi juga menjadi penyerap cahaya kebenaran Alquran dengan baik. Sehingga, pikiran, ucapan, dan perilakunya senantiasa menghadirkan arti dan inspirasi di dalam pergaulan. Itulah sumber ketenteraman hati yang sesungguhnya, yang kita diperintahkan untuk menggapainya. Wallahu a'lam.