Jumat , 11 August 2017, 18:39 WIB

Menjadi Negeri Berkah

Red: Irwan Kelana
Blogspot
Sawah nan subur (foto ilustrasi)
Sawah nan subur (foto ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Arifin Ilham

Satu pekan ke depan, negeri ini akan menemui hari miladnya yang ke-72. Satu capaian usia yang tidak bisa disebut muda lagi. Sudah berumur.

Usia ‘manula’ yang seharusnya cukup untuk dikatakan tinggal memetik buah dari perjalanan hidupnya. Usia untuk mengenang masa muda penuh romantika. Usia untuk semua anak bangsa yang mendiaminya berharap hidup tenang, damai dan sejahtera.

Semestinya di usia yang sudah setengah abad lebih dua dasawarsa ini, segala capaian tinggal dinikmati. Tapi sayangnya semua masih uthopia. Masih di alam khayal. Masih banyak hal aneh di negeri ini.

Semua orang di sebelah negeri menakjubi melimpahnya kekayaan bumi pertiwi ini. Hampir semua bentuk kekayaan alam ada di negeri ini. Namun,  anehnya  kekayaan itu tidak serta merta membuat rakyatnya hidup makmur dan sejahtera.

Dengan berlimpahnya kekayaan negeri ini, kata orang pintar, ternyata pendapatan negara termasuk dari hasil pengelolaan bermacam kekayaan alam itu tidak cukup untuk membiayai belanja negara.  Sehingga,  kekurangannya harus ditutup dengan mencari utang baik dari dalam negeri atau dari luar negeri.
 
Katanya, jumlah utang negeri bernama Indonesia ini pada medio 2017 telah mencapai Rp 3.667 triliun. Jumlah itu jika dibagi dengan jumlah penduduk 257,9 juta maka tiap orang penduduk termasuk bayi yang baru lahir sekalipun terbebani utang sebesar Rp 14 juta.

Ketika dulu awal kali duduk di tahta kekuasaannya, pemimpin di negeri ini meminta rakyatnya untuk memaklumi saat menaikkan harga BBM. Bahkan terkesan sangat ngotot. Tapi, lagi-lagi anehnya, pemerintah tidak terlihat ngotot membenahi penggunaan anggaran yang selalu saja penyerapannya numpuk di akhir-akhir tahun yang kemudian rawan pemborosan, inefisiensi, tidak efektif dan rawan diselewengkan. Lebih aneh lagi, pemerintah juga tidak terlihat ngotot memberantas korupsi dan menyita harta koruptor termasuk mengejar uang negara yang dikemplang dalam kasus BLBI yang kini masih mangkrak.

Yang ini mungkin lebih aneh, penduduk di negeri ini sebahagian besarnya adalah umat muslim, tapi saat ada niat dan sikap untuk lebih hidup dengan syariat Allah dan itu adalah ejawantah dari penjabaran yang konstitusional dari UUD 45 dan Pancasila, dianggap intoleran, ekstremis dan fundamentalis. Warganya ingin benar dalam penghambaan dirinya kepada Sang Khalik,  tapi ditakut-takuti oleh selembar perpu berwajah sangar. Ingin lebih bertakwa dan beriman kepada-Nya, tapi sayang stigma jahat harus siap ditempel kepadanya.
 
Sebenarnya pasti kita semua ingin negeri ini tidak aneh. Negeri berwajah indah dengan keberkahan  di kanan kirinya, tenang hidup wargnya dan sejahtera bagi para penduduknya. 72 tahun sudah cukup bagi kita untuk segera mewujudkan negeri yang benar-benar berkah.  

Simaklah dengan iman, Allah menyapa Indonesia, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf: 96).