Rabu , 12 Juli 2017, 11:25 WIB

Meminta kepada Allah

Red: Agung Sasongko
Antara
Berdoa Ilustrasi
Berdoa Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Oleh: Nur Farida

Manusia adalah makhluk sosial. Pada saat yang sama, ia juga makhluk spiritual. Artinya, selain membutuhkan orang lain, ia juga membutuh kan sesuatu yang sifatnya gaib bahkan Mahagaib untuk membantunya keluar dari kesulitan hidup.

Hal ini karena tidak setiap kebutuhan mampu dipenuhi oleh orang lain. Manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa diselesaikannya sendiri, bahkan ketika ia sudah meminta bantuan dan pertolong an kepada orang lain yang dirasa punya kemampuan lebih.

Pada titik terlemah dan terendahnya, ketika manusia merasa sepertinya jalan tampak sudah buntu atau ia begitu kesulitan menemukan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya, sisi batin atau spiritualnya pun ber sua ra, mencari-cari kekuatan gaib yang yang mampu mem bantunya. Orang yang beriman niscaya segera me mo hon dan meminta kepada Allah agar sudi membantu nya.

Nabi pernah berpesan kepada Ibnu Abbas, saat ber a da di atas unta, membonceng di belakangnya, "Wahai anak muda, jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah." (HR at-Tirmidzi). Meminta dalam bahasa Arab disebut dengan doa. Orang yang berdoa kepada Allah sejatinya tengah meminta sesuatu kepada-Nya. Namun, doa mesti diiringi dengan usaha. Ini disebut dengan tawakal.

Ibnul Qayyim dalam kitab ar-Ruh fil Kalam 'ala Arwahil Amwat wal Ahya' mengatakan, "Tawakal merupakan amal dan bentuk ubudiyah hati (penghambaan kepada Allah) dengan menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah, percaya terhadap- Nya, berlindung hanya kepada-Nya dan ridha atas sesuatu yang menimpa dirinya, berdasarkan keyakinan bahwa Allah akan memberikannya segala kecukupan bagi dirinya, dengan tetap melaksanakan sebab-sebab serta usaha keras untuk dapat memperolehnya."

Meminta kepada Allah, tetapi tidak berusaha keras untuk memperolehnya, bukanlah tawakal me lain kan sikap manja. Sehingga kemungkinan besar akan diabaikan Allah. Allah tidak suka orang yang ma las. Bagaimana ia mendapatkan yang diinginkan? Se perti dikatakan di awal, manusia adalah makhluk sosial sekaligus spiritual. Keduanya mesti berjalan bersama an. Bersosial namun melupakan spiritualitasnya, sehingga tidak meminta kepada Allah, sama dengan melupakan dan mengabaikan-Nya serta menjauhi-Nya.

Orang yang seperti itu berarti adalah orang yang sombong, merasa segala hal bisa diselesaikan sendiri, cukup bersandar kepada manusia atau ilmu pengeta huannya. Padahal, manusia adalah makhluk yang ke mam puannya terbatas. Begitu pula dengan pengeta huan nya. Sepandai-pandainya manusia, ia tidak akan mam pu memastikan apa yang terjadi esok hari. Ia hanya bisa meramal dan memperkirakan. Itu pun banyak yang me leset. Manusia tidak bisa dijadikan sebagai sandaran uta ma dan satu-satunya. Allahlah yang mestinya men jadi sandaran utama (ash-Shamad), sehingga dengan kedekatan dengan Allah, Allah pun akan memberi jalan dari berbagai masalah dan kesulitan yang dihadapinya.

Allah berfirman, "Dan barang siapa yang bertawakal ke pada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (ke per luan)nya." (QS ath-Thalaq [65]: 3). Nabi juga bersabda, "Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenarsebenarnya tawakal, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada seekor burung yang pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali pada sore hari dalam keadaan kenyang." (HR at-Tirmidzi). Abu Hatim ar-Razi mengatakan, di sini Nabi berbica ra tentang tawakal, dan ini merupakan faktor terbesar yang bisa mendatangkan rezeki. Wallahu a'lam. ¦