Kamis , 29 Juni 2017, 16:24 WIB

Memaafkan

Red: Agung Sasongko
Republika/Prayogi
Saling memaafkan  (ilustrasi)
Saling memaafkan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA: Oleh: H Karman

Meminta maaf itu baik, tapi memaafkan jauh lebih baik. Memaafkan merupakan salah satu indikator dari ketakwaan (QS ali-Imran, (3) : 133) sebagai tujuan dari ibadah saum (QS al- Baqarah, (2) : 183). Jadi, adanya sifat memaafkan pada diri kita setelah melaksanakan ibadah saum merupakan salah satu indikator keberhasilan saum.

Ada beberapa alasan mengapa kita mesti memaafkan. Pertama, memaafkan merupakan sifat ilahiyah. Allah Mahabesar dan Mahakuasa, tapi masih mau mengampuni dan memaafkan dosa-dosa hamba-Nya yang bertobat. Sebesar apa pun dosa-dosa hamba-Nya, asalkan ia bertobat nashuha, pasti diampuni-Nya. Sebab, rahmat- Nya meliputi segala sesuatu (QS al-A'raf, (7) : 156), termasuk terhadap hamba-Nya yang berdosa dan Rahmat-Nya mengalahkan kemarahan-Nya. (HR Mutafaq Alaih).

Jika Allah Yang Mahabesar mau mengampuni dosa hamba-Nya, tentu kita makhluk lemah yang tidak lepas dari dosa mestinya bisa memaafkan kesalahan orang yang berbuat salah. Jika tidak mau memaafkan, jangan-jangan kita termasuk orang sombong yang menempatkan diri sama bahkan lebih dari-Nya. Kedua, memaafkan itu sehat, sedangkan menyimpan dendam dan kemarahan itu sakit.

Ketika kata maaf terucap, pada saat yang sama energi negatif dalam tubuh terlepas. Sebaliknya, jika kemarahan dan dendam disimpan dalam hati, ia akan berubah menjadi energi negatif yang akan merusak jiwa dan raga. Bayangkan, jika kita disakiti orang. Kemudian, rasa sakitnya disimpan dalam bentuk dendam dan berharap orang itu meminta maaf. Namun, yang diharapkan tidak kunjung datang. Akibatnya, hati akan merasa sakit sehingga kita akan mendapat kerugian dua kali, yaitu sudah disakiti orang lain juga menyakiti diri sendiri.

Ketiga, memaafkan menambah kemuliaan. Jika kita dihina orang kemudian membalas dengan hinaan yang sama atau lebih, tidak akan menambah apa pun pada diri kita kecuali kehinaan. Seperti, ada orang gila menuduh kita gila. Kemudian, karena marah, kita membalas dengan menyebutnya juga gila. Maka, hakikatnya kita dan dia sama gilanya. Jadi, jika ada orang menghina dibalas dengan hinaan lagi maka kita sama hinanya dengan orang yang menghina.

Sebaliknya, ketika mau memberi maaf pada penghina, bahkan membalasnya dengan kebaikan, kita tidak akan kekurangan apa pun, kecuali akan menyebabkan bertambahnya kemuliaan. Hal tersebut ditegaskan oleh Rasulallah SAW," Tidak akan berkurang harta seorang hamba karena bersedekah. Dan, tidaklah seorang hamba dizalimi, kemudian ia bersabar (mau memaafkan) kecuali Allah akan menambah kemuliaan kepadanya.

Memang Allah SWT membolehkan membalas keburukan dengan keburukan yang sepadan. Namun, hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan, bisa mendatangkan masalah baru. Oleh karena itu, menurut Alquran, bersabar, memaafkan, dan membalas dengan kebaikan lebih baik dan Allah SWT akan menanggung pahalanya. Hal tersebut diperkuat oleh firman-Nya: "Dan, jika kamu memberikan balasan, balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar" (QS al-Nahl: 126)," Dan, balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, barang siapa memaafkan dan berbuat baik, pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim' (QS al-Syuura, (42): 40).