Rabu , 17 May 2017, 11:09 WIB

Menghebatkan Kesabaran

Red: Agung Sasongko
Sabar/ilustrasi
Sabar/ilustrasi

Oleh: Iu Rusliana

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesabaran itu tidak ada batasnya. Semakin tinggi kualitas kehidupan, harus semakin hebat pula kualitas kesabaran. Ibarat tangga, lintasilah dengan penuh ikhlas semua proses latihan menuju tangga tertinggi.

Kedudukan orang yang bersabar sangat mulia, dicintai Allah SWT. Dalam Alquran surah al-Anfal ayat 46 dinyatakan: "Dan bersabarlah kamu karena sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang bersabar." Dalam surah Ali Imran ayat 146 dinyatakan: "Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar."

Sabar adalah sifat utama para nabi, perhiasan terindah keimanan. Gelapnya dunia diterangi oleh cahaya terang kesabaran. Bagi mereka yang rendah kesabarannya, akan tersesat hidupnya, sementara mereka yang penuh dengan kesabaran akan menempuh jalan lurus penuh kebahagiaan.

Tirai ujian kehidupan itu seperti tak berbatas, selesai satu perkara, akan datang urusan lain, mengantre tiada henti. Energi kehidupan pun harus terus ditingkatkan, dikuatkan dengan bekal yang lebih dari cukup. Di situlah pentingnya menghebatkan kesabaran.

Mulailah dengan latihan dan ikhtiar penuh ihlas dan kesungguhan untuk menghebatkan kesabaran agar kita menjadi manusia yang berbahagia dan mendapatkan kabar gembira. Rasulullah SAW menyatakan: "Barang siapa yang berusaha untuk sabar, maka Allah SWT akan menjadikannya seorang yang bersabar," (HR Bukhari).

Kemudian, mintalah selalu kepada yang membolakbalikkan hati karena sabar adalah anugerah terbaik dari-Nya. Kalau kita tidak diberikan kesabaran oleh Allah SWT maka amarah dan nafsu yang menguasai kalbu. Dalam surah al-Anfal ayat 65 dikatakan bahwa pengaruh kesabaran itu sangat besar bagi jiwa sehingga dapat memberikan kekuatan yang berlipat ganda.

Selain latihan dan terus berdoa agar memperoleh kesabaran, berusahalah selalu untuk menjadi pemaaf. Sabar dan memaafkan adalah rangkaian sifat kemuliaan. Dalam surah an-Nahl ayat 126, Allah SWT memuji orang yang bersabar, tidak membalas perbuatan buruk yang dilakukan orang lain.

Memaafkan adalah energi terbaik dalam diri, menguatkan dan menyembuhkan. Kuatkan jiwa menerima kenyataan, membersihkan kebencian, melupakan kejahatan, dan basuhlah api amarah. Tentu tidak mudah karena dendam mudah menghasut dan membakar. Namun, bagi mereka yang menyadari bahwa obat terbaik adalah hati, jiwanya akan kokoh setegar karang saat ombak pasang dan gelombang kebencian menghantam.

Latihan tiada henti, berdoa, dan memaafkan akan menjadi energi dahsyat dalam menghebatkan kesabaran. Ibarat rangkaian, hidup ini adalah pelajaran. Maka jalani sebagai proses belajar dan latihan, bingkai dengan kesabaran.

Dalam hubungan antarumat beragama, kesabaran mutlak dibutuhkan. Ejekan orang kafir tak hanya dialami di zaman baginda Rasul, tetapi tentu saja saat ini. Surah Thaha ayat 130 mengajarkan tentang perlunya bersabar menghadapi ejekan dan fitnah dari orang kafir.

Sabar juga diarahkan untuk segala kegiatan ibadah. Tanpa kesabaran, ibadah kita tak akan mencapai kesempurnaan. Sabar pun dibutuhkan saat menghadapi musibah, menunggu ketetapan dan janji Allah SWT. Kadang kita ragu dengan ketetapan-Nya, selalu ingin terpenuhi padahal belum saatnya. 

Bersabar pun dibutuhkan untuk memperoleh kebutuhan. Surah al-Baqarah ayat 153 menyatakan: "... minta bantuanlah kamu dengan sabar dan shalat." Demikianlah energi kesabaran perlu diketahui, tetapi lebih penting lagi menjadi bekal keseharian.

Tentu saja, menjadi hebat itu soal pilihan sadar dan kesungguhan. Kita hanya mengendalikan secuil dari apa yang terjadi pada diri tetapi bebas memilih untuk menjadi hebat berdasarkan pilihan. Oleh karena itu, pastikan dalam semua proses dan tahapan, kesabaran menjadi kekuatan. Wallaahua'lam.