Jumat , 14 April 2017, 13:16 WIB

Esensi Amar Makruf Nahi Mungkar

Red: Agung Sasongko
Antara/Zarqoni
Ilustrasi Berdoa di puncak bukit Uhud
Ilustrasi Berdoa di puncak bukit Uhud

Oleh: Karman

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam sebuah hikayat, Nabi Musa AS, pernah mengadu kepada Allah SWT, "Ya, Allah! Mengapa Engkau menghukum orang tidak berdosa hanya karena mereka hidup bersama di lingkungan orang-orang yang berbuat dosa." Allah SWT tidak menjawab keluhan Nabi Musa AS tersebut.

Dengan perasaan kecewa dan sedikit kesal, Nabi Musa duduk di atas sebatang kayu lapuk. Tidak lama setelah duduk, tiba-tiba pantatnya digigit seekor semut. Ia marah. Kemudian, semut-semut yang berada di atas kayu tersebut diusirnya.

Nabi Musa AS marah kepada semua semut yang berada di sekitar batang kayu tersebut, padahal yang menggigit pantatnya hanya seekor semut. Hal tersebut dikarenakan semut yang berada di sekitarnya tidak peduli terhadap perbuatan buruk semut yang menggigit Nabi Musa.  

Jawaban Allah SWT atas keluhan Nabi Musa mirip dengan perumpamaan penumpang perahu yang digambarkan Nabi Muhammad SAW. Beliau menggambarkan orang bermasyarakat, seperti penumpang perahu. Di antara penumpang itu ada yang iseng melubangi perahu, sementara penumpang lain diam, tidak peduli, dengan dalih itu bukan urusannya. Akibatnya, ketika perahu itu bocor, air masuk ke dalam, kemudian perahu tenggelam. Ketika perahu tenggelam yang celaka bukan hanya pembocor perahu, melainkan semua penumpang.

Secara lengkap perumpamaan itu dituturkan Rasulullah SAW, "Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dengan orang yang melanggarnya seperti suatu kaum yang melakukan undian dalam sebuah kapal. Maka, sebagian (penumpang) berada di atas dan sebagian yang lain di bawah. Dan, penumpang bagian bawah jika akan mengambil air melewati penumpang yang di atas. Dan suatu saat berkata: Kalau kita lubangi kapal ini (untuk mengambil air), mungkin tidak mengganggu orang yang di atas. Jika mereka membiarkan saja orang yang melubangi kapal maka semuanya akan hancur, tetapi jika dilarang, maka mereka semua selamat." (HR Bukhari).

Dua cerita di atas menggambarkan esensi amar makruf nahi mungkar. Jika pada satu lingkungan masyarakat terjadi kemungkaran, tapi dibiarkan oleh orang-orang baik dengan alasan bukan urusannya maka kalau lingkungan tersebut mendapat azab, imbasnya tidak hanya dirasakan oleh pelaku kejahatan, tapi juga oleh semua orang yang ada di sekitarnya. Sebaliknya, jika orang-orang baik itu memiliki kepedulian, kemudian melakukan pencegahan melalui tindak amar maruf nahi mungkar maka yang selamat tidak hanya pembuat kejahatan, tapi semua orang yang berada di sekitarnya.

Allah SWT mewanti-wanti melalui firman-Nya, "Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." ( QS al-Taubah [8]: 25). Nabi SAW menguatkan ayat di atas melalui sabdanya, "Demi Zat yang diriku ada dalam genggaman kekuasan-Nya, sungguh hendaklah kalian memerintahkan yang makruf dan melarang kemungkaran atau sungguh Allah mempercepat kiriman siksaan terhadap kalian kemudian kalian memohon kepada-Nya, maka tidak diijabah bagi kalian." (HR Tirmizi).

Jika kita tidak mau diazab dan doa ditolak oleh Allah SWT maka jangan biarkan perahu kehidupan dibocori oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Cegahlah perbuatan buruk mereka sebatas kemampuan kita melalui dakwah amar makruf nahi mungkar sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barangsiapa yang melihat kemungkaran di antaramu, maka hendaklah mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa maka dengan hatinya. Yang demikian itu (mengubah dengan hati) termasuk selemah-lemahnya iman." ( HR Muslim). Wallahu a'lam. n

TAG