Rabu , 08 March 2017, 09:24 WIB

Raja Bijak dan Dermawan

Red: Agung Sasongko
onislam
Salah satu situs islam di Timbuktu, Mali
Salah satu situs islam di Timbuktu, Mali

Oleh: Inayatullah Hasyim

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Alkisah, para wanita kelas atas menggunjingkan sang permaisuri yang jatuh cinta kepada pemuda bernama Yusuf. Permaisuri itu kesal, dia lalu mengundang para wanita itu datang ke istana. Kepada setiap mereka diberikan sebilah pisau, lalu Nabi Yusuf (Alaihi Salam) disuruh keluar.

Allah SWT menceritakan dalam firman-Nya, "Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa)-nya, dan mereka 'memotong' (jari) tangannya sendiri dan berkata, Mahasempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah malaikat yang mulia." (QS Yusuf: 31)

Kata memotong dalam terjemahan di atas sengaja saya berikan tanda petik. Mengapa? Sebab, umumnya diterjemahkan sebagai 'menggores'. Padahal, kata itu dalam bahasa Arabnya diberikan penekanan (tasydid) sehingga arti yang lebih tepat adalah 'memotong dengan keras'.

Kata tergores punya pemahaman, memotong secara tidak sengaja, mungkin sambil memotong buah. Padahal, Alquran tidak menceritakan adanya buah-buahan pada ayat tersebut. Mereka hanya diberikan pisau, tetapi tidak diberikan buah.

Ketika akhirnya Yusuf dipenjara akibat menolak bujukan permaisuri untuk selingkuh, dua orang datang menghampirinya dan meminta pendapat atas mimpi mereka. Mereka menganggap  Yusuf seorang yang sangat santun, bijak, dan tidak emosional.

Bersama perjalanan waktu, Yusuf lalu bebas dari penjara. Ia kemudian menjadi penguasa Mesir dan menjadi raja di negeri itu. Suatu hari, Yusuf mengundang saudara-saudaranya yang dulu membuangnya agar datang ke Mesir bersama Bunyamin untuk mendapatkan pembagian gandum. Namun, para saudaranya itu tidak lagi mengenali Yusuf, bahkan Bunyamin pun tak mengenalinya.

Agar ada alasan untuk menahan Bunyamin, pada kantong gandum Bunyamin dimasukkan piala kerajaan hingga Bunyamin dituduh mencuri. Para saudara Yusuf berkeras Bunyamin tidak mencuri dan mereka memohon pada Yusuf agar membebaskannya.

Masya Allah, Yusuf dikenal bijak saat hidup susah di penjara dan bijak pula saat hidup senang sebagai raja. Dalam sejarah peradaban Islam, pernah hidup seorang raja yang dikenal sangat dermawan. Kekayaannya sungguh fantastis.

Raja itu adalah Musa Mansa (atau Musa Keita I), seorang raja di negeri Mali, Afrika. Menurut Ibnu Khaldun, Musa Mansa lahir sekitar tahun 1280 M dan meninggal di tahun 1337 M. Dia dikenal sebagai seorang yang dermawan dan mencintai ilmu pengetahun.

Pada tahun 1324, Musa pergi haji. Di zaman itu, perjalanan haji masih menempuh darat dan dibutuhkan waktu berbulan-bulan perjalanan. Musa membawa rombongan sebanyak 60 ribu orang, 20 ribu di antaranya adalah para budak.

Pada setiap budak ditugaskan membawa 1,8 kg emas. Dia juga membawa 60 unta dan masing-masing unta membawa sekitar 23 sampai 136 kg emas. Total perbekalan emas yang dibawanya adalah 34 ton!

Sepanjang jalan yang dilaluinya, dia memberi sedekah kepada fakir miskin berupa kepingan-kepingan emas. Saat mampir di Mesir dan memberi hadiah kepada raja Mesir ketika itu, al-Nasir Muhammad, sebanyak 50 ribu dinar.

Kedatangannya di Tanah Suci disambut gegap gempita. Hijaz (Arab Saudi) kala itu masih tandus dan miskin. Maka, kedatangan sang raja menaikkan transaksi ekonomi masyarakat.

Rupanya, akibat kedermawanannya, semua wilayah yang dilalui Musa mengalami inflasi. Harga emas menjadi murah karena ketersediaan emas melimpah dan harga barang melonjak. Dalam perjalanan balik dari Makkah, dia bersedia membeli balik emas yang berlebih.

Di negeri kelahirannya, dia membangun masjid yang diberi nama Masjid Djinguereber. Masjid itu berdiri kokoh hingga hari ini di Kota Timbuktu, Mali. Keberadaan raja yang bijak, kaya, rupawan, dan dermawan niscaya melahirkan multiefek yang luar biasa bagi kehidupan masyarakat.