Selasa 26 May 2015 16:07 WIB

Bentuk Penghargaan Rasulullah Terhadap Keluarga

Menjadikan Rasulullah sebagai teladan.
Foto: Republika/Prayogi
Menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

Oleh: Ali Farkhan Tsani

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pepatah mengatakan, 'Teman boleh datang dan pergi. Akan tetapi, keluarga tetaplah yang abadi'. Teman kuliah akan berpisah begitu wisuda. Demikian juga rekan sepermainan, satu hobi olahraga, misalnya.

Maka, akan bubar manakala selesai kegiatan itu. Namun, sebuah keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak, akanlah tetap abadi dalam bingkai yang disebut dengan keluarga sakinah mawaddah warahmah.

Keluarga merupakan tempat sejumlah orang berkumpul, bersosialisasi dalam lingkup terkecil di masyarakat, bergaul, bercengkerama, dan beristirahat. Keluarga juga menjadi madrasah pertama bagi anak-anak sebelum bersekolah formal di lembaga pendidikan.

Keluarga memegang peranan penting bagi karier seseorang, apakah ia seorang ayah kepala rumah tangga, ibu sosok panutan, atau anak dalam meniti kesuksesan hidupnya.

Seorang suami, betapapun hebat ilmu dan pengalamannya, tinggi jabatan kedudukannya, serta luas pergaulannya. Ia tidaklah akan sukses tanpa ditopang kesetiaan, kesabaran, pendampingan, dan doa ikhlas dari seorang isteri. Maka, ada istilah, “Di balik kesuksesan seorang suami ada sosok istri di belakangnya”.

Demikian sebaliknya, betapapun lebih tinggi pangkatnya, lebih besar penghasilannya, serta lebih sibuk aktivitasnya, jika ia berposisi sebagai seorang istri dalam rumah tangga atau ibu bagi anak-anaknya maka ada sosok suami, sang pemimpin dan penentu kebaikan istrinya.

Begitulah, maka kita mengetahui betapa penghargaan Nabi Muhammad SAW terhadap keluarga sehingga beliau sampai-sampai menyebut dengan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan, aku adalah yang terbaik terhadap keluargaku.” (HR At-Tirmidzi).

Bagaimana tidak menghormati keluarga, tatkala suatu pagi dilihatnya di dapurnya belum ada makanan, lalu istrinya, 'Aisyah, mengatakan bahwa pagi itu belum ada yang dapat dimasak. Bukan piring terbang yang melayang, apalagi umpatan yang menghujat. Akan tetapi, kalimat santun, “Baiklah kalau begitu biarlah saya berpuasa saja”.

Bagaimana juga tidak disebut mengerti kesibukan sang istri, sampai-sampai baginda Nabi SAW menjahit terompahnya sendiri. Demi dilihatnya itu harus dilakukannya sendiri dan mampu untuk mengerjakan itu.

Bagaimana pula sebaliknya, tatkala semasa hidupnya, Khadijah, istri pertama Nabi, menyelimuti Sang Nabi, suaminya tercinta, tatkala baru pertama menerima wahyu, berjumpa dengan sosok Malaikat Jibril di Gua Hira.

Khadijah pun menenangkannya, “Tidak, wahai suamiku. Bergembiralah dan teguhkanlah hatimu…. Demi Allah, Allah tidak akan mengecewakanmu. Maka, demi Dzat yang nyawa Khadijah di tangan-Nya, sesungguhnya saya mengharapkan engkau menjadi Nabi umat ini. Engkau selalu menjalin ikatan tali keluarga, menghormati tamu, menolong yang lemah, dan engkau tidak pernah melakukan kejelekan sama sekali.”

Demikian pula bagaimana perlakuan Nabi terhadap anak-anaknya. Beliau selalu memperhatikan dan menepati, jika menjanjikan sesuatu pada sang anak. Hingga baginada pun berkata kepada kita, umatnya, “Bila engkau menjanjikan sesuatu kepada anak maka tepatilah janji itu. Sebab, sesungguhnya yang anak-anak tahu adalah bahwa engkaulah yang memberi mereka rezeki.”

Maka, marilah berlaku baik, bahkan yang terbaik terhadap keluarga kita masing-masing. Kita sama-sama menjaga diri dan keluarga kita agar tetap terjaga dalam bingkai ibadah kepada-Nya serta terjauh dari siksa-Nya.

Allah SWT menyebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim [66]: 6).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement