JAKARTA — Pengalaman menjalankan ibadah umrah secara mandiri menginspirasi Erwin Hermanto, pegiat teknologi asal Bandung, untuk mengembangkan Syumra. Platform digital yang awalnya dibuat sebagai alat bantu melacak putaran tawaf dan sa'i itu kini berkembang menjadi aplikasi dengan beragam fitur edukasi umrah dan haji, termasuk simulator berbasis tiga dimensi (3D) yang bisa diakses secara gratis.
Erwin, alumni STMIK Bandung angkatan 2012, mengatakan, ide awal Syumra muncul ketika dirinya hendak menjalankan ibadah umrah untuk pertama kalinya. Saat itu, dia memilih melaksanakan umrah secara mandiri sehingga membutuhkan panduan untuk membantunya selama berada di Tanah Suci.
Sebelum berangkat, Erwin mengumpulkan berbagai informasi, dari doa hingga tips pelaksanaan umrah. Dia mencatat materi yang diperolehnya dari sejumlah video manasik umrah di YouTube. Namun, ada kebutuhan lain yang dirasakannya ketika mempersiapkan perjalanan tersebut, yakni alat untuk memantau putaran tawaf dan sa'i.
"Kebetulan kita tidak pakai muthowif saat umrah. Akhirnya saya coba untuk buat aplikasi," ujar Erwin saat dihubungi Republika, Kamis (5/12/2026).
Dari kebutuhan pribadi itulah Syumra mulai dikembangkan. Pada tahap awal, aplikasi tersebut hanya memiliki fitur untuk membantu pengguna melacak pelaksanaan tawaf dan sa'i agar lebih mudah memantau rangkaian ibadah.
Meski demikian, pengembangan Syumra tidak berhenti setelah Erwin pulang dari Tanah Suci. Pengalaman langsung selama menjalankan umrah justru menjadi bahan untuk memperkaya fitur aplikasi tersebut.