Kamis 22 Oct 2026 07:31 WIB

Kitab Kuning di Tengah Algoritma: Siapa Mendidik Santri?

Tradisi pesantren sesungguhnya memiliki modal penting untuk menjawab tantangan.

Ilustrasi Santri. Kitab Kuning di Tengah Algoritma: Siapa Mendidik Santri?
Foto: ANTARA FOTO
Ilustrasi Santri. Kitab Kuning di Tengah Algoritma: Siapa Mendidik Santri?

Oleh: KH. Nurul Badruttamam, Ketua Yayasan Ma’hadul Islam Mardhotillah Jakarta dan Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU 2022-2027

REPUBLIKA.CO.ID, Sejarah Hari Santri tidak dapat dilepaskan dari peran Nahdlatul Ulama (NU) dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, para ulama NU mengeluarkan Resolusi Jihad yang menyerukan perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dari ancaman kembalinya kolonialisme.

Seruan yang berakar pada pandangan keagamaan tersebut menegaskan bahwa membela tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab umat. Semangat itu kemudian menjadi salah satu landasan historis peringatan Hari Santri Nasional, yang ditetapkan pemerintah pada 22 Oktober melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015.

Baca Juga

Namun, sejarah tidak seharusnya hanya menjadi ingatan yang dirawat melalui seremoni. Sejarah mesti menjadi sumber inspirasi untuk membaca tantangan zaman dan menentukan bentuk pengabdian berikutnya.

Pada Hari Santri Nasional 2026, dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”, kita diingatkan bahwa tantangan pendidikan santri terus berkembang seiring perubahan zaman. Berbagai inisiatif penguatan literasi digital telah mulai dikembangkan.

Namun, ikhtiar ini perlu terus diperluas agar kecakapan digital tidak hanya menjadi program sesaat, melainkan bagian yang berkelanjutan dari proses pendidikan pesantren. Kemudian ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan: siapakah yang mendidik santri ketika sebagian ruang belajar, ruang pergaulan, bahkan ruang pembentukan pendapat mereka telah berpindah ke dunia digital?

Pertanyaan ini bukan untuk mempertentangkan kitab kuning dengan algoritma. Justru sebaliknya, kita perlu memastikan bahwa kedalaman tradisi keilmuan pesantren tetap menjadi kekuatan ketika santri memasuki dunia yang semakin dipengaruhi teknologi, kecerdasan buatan, dan arus informasi tanpa batas.

Di sinilah pentingnya membangun sinergi antara pemerintah, pengasuh pesantren, keluarga, dan penyelenggara teknologi untuk memastikan santri mampu memanfaatkan kemajuan digital tanpa kehilangan kedalaman ilmu dan keluhuran akhlak.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi