Kamis 15 Oct 2026 17:50 WIB

Mengapa Max Weber Mengkhianati Metodenya Sendiri ketika Menafsirkan Islam?

Max Weber terindikasi tidak jujur saat membaca fenomena Islam.

ILUSTRASI Perang Salib.
Foto: dok wiki
ILUSTRASI Perang Salib.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Jawaban atas pertanyaan ini dicoba diungkap Yasin Aktay, akademisi yang juga politikus, serta penulis asal Turki, dalam artikelnya yang dikutip dari Aljazeera, Kamis (15/10/2026).

Penulis menilai bahwa Max Weber bertolak dari prasangka yang diwariskan ketika mengkaji Islam, berbeda dengan pendekatannya terhadap agama-agama lain.

Baca Juga

Buku Bryan S Turner berjudul Max Weber and Islam: A Critical Study, yang telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Turki bertahun-tahun lalu, mengungkap salah satu paradoks paling mencolok dalam sosiologi Weber.

Max Weber merupakan salah satu pelopor metode “sosiologi interpretatif” (verstehende Soziologie) yang membawa perubahan besar dalam sosiologi modern.

Dia berpandangan bahwa untuk memahami tindakan sosial, seseorang harus berangkat dari makna yang diberikan oleh pelaku itu sendiri terhadap perilakunya.

Namun, ketika membahas Islam, Weber justru mengesampingkan metodenya tersebut sampai batas tertentu.

Ia tidak memulai kajiannya dari cara umat Islam memahami dunia mereka sendiri, tetapi menggunakan kerangka berpikir yang telah dibangun Barat tentang Islam selama berabad-abad.

Keistimewaan metode Weber terletak pada penolakannya untuk menjelaskan realitas sosial dengan mereduksinya menjadi sekumpulan faktor eksternal.

Sebaliknya, dia berpandangan bahwa seseorang harus terlebih dahulu memasuki dunia pelaku sosial untuk memahami tindakannya.

Ketika mengkaji perilaku ekonomi umat Kristen Protestan, misalnya, Weber memberikan perhatian serius terhadap keyakinan mereka mengenai takdir, keselamatan, pekerjaan, dan keberhasilan duniawi.

Dia tidak memandang Protestanisme sekadar sebagai cerminan kepentingan kelas atau kondisi ekonomi. Sebaliknya, dia berusaha memahami bagaimana keyakinan agama membentuk perilaku manusia.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi