REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Panjangnya umur seseorang tidak selalu menjadi tanda banyaknya amal kebaikan atau besarnya manfaat seseorang bagi sesama. Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengingatkan, ada orang yang berumur panjang tetapi sedikit manfaatnya, sementara orang yang berumur pendek justru meninggalkan banyak kebaikan yang terus dikenang sepanjang sejarah.
"Bisa jadi umur seseorang panjang, namun sedikit manfaatnya. Bisa jadi umur seseorang pendek, namun banyak manfaatnya." (Syekh Ibnu Athaillah, Al-Hikam)
Penyusun dan Penerjemah Al-Hikam DA Pakih Sati Lc menjelaskan maksud Syekh Athaillah terkait umur panjang atau pendek yang banyak manfaatnya atau sedikit manfaatnya. Ia menerangkan bahwa terkadang seseorang menyaksikan orang lain yang hidup puluhan tahun. Namun, tidak ada manfaat yang diberikan orang berumur panjang itu kepada orang lain, atau hanya sedikit amal ibadahnya kepada Allah SWT.
Sungguh merugi orang seperti itu, ia diberi kesempatan hidup yang lama atau panjang umur untuk mendapatkan pahala yang banyak. Akan tetapi, ia menyia-nyiakannya dan tidak mempergunakannya dengan sebaik-baiknya.
Ada juga di antara manusia yang umurnya pendek, namun manfaat yang diberikannya kepada orang lain sungguh luar biasa. Orang seperti ini akan terus diabadikan oleh sejarah dan tidak akan terlupakan. Sangat mungkin usia sejarahnya lebih panjang dari usia biologisnya.
Cobalah kalian perhatikan para Rasul, Nabi, shalihin, dan ulama. Banyak di antara mereka yang meninggal di usia muda, dan nama mereka masih terus dikenang sampai hari ini. Umur yang pendek tapi penuh manfaat, jauh lebih baik daripada umur yang panjang tapi penuh maksiat.