REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia memastikan bahwa hingga saat ini tidak ada jamaah umrah asal Indonesia yang terdampak langsung serangan Houthi Yaman di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu (10/10/2026).
Guna mengantisipasi berbagai kemungkinan, Kemenhaj menyampaikan sejumlah imbauan penting.
Bagi jemaah yang saat ini berada di Arab Saudi, Kemenhaj mengimbau agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, dan memfokuskan kegiatan pada pelaksanaan ibadah di Makkah dan Madinah.
Jamaah diminta untuk membatasi perjalanan yang tidak mendesak ke luar wilayah tersebut, mematuhi seluruh arahan otoritas setempat, menghindari lokasi yang berpotensi rawan, dan terus berkoordinasi secara aktif dengan pihak travel.
Sejalan dengan hal tersebut, Kemenhaj juga menginstruksikan seluruh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) atau travel umrah untuk menjadikan keselamatan jamaah sebagai prioritas utama.
Pihak travel diwajibkan untuk memantau kondisi jamaah, memberikan pendampingan, serta segera menginformasikan setiap perubahan jadwal beserta langkah penanganannya, termasuk memastikan jamaah dapat menghubungi petugas saat membutuhkan bantuan di lapangan.
Terkait kondisi terkini para jamaah, Juru Bicara Kemenhaj, Ichsan Marsha menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan data secara komprehensif.
"Berdasarkan data yang terdaftar di sistem kami, hingga Minggu, 11 Oktober 2026, total ada 37 jamaah yang berangkat dan pulang melalui Bandara Internasional King Khaled, Riyadh. Berdasarkan komunikasi yang kami jalin bersama dengan Kementerian Luar Negeri serta KBRI Riyadh, alhamdulillah tidak ada jamaah umrah yang menjadi korban dalam serangan tersebut," ujar Ichsan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/10/2026).