Senin 12 Oct 2026 10:01 WIB

Ketika Kita Memohon Rahmat dan Arah

Setiap hari manusia berhadapan dengan keputusan, tanggung jawab, dan persoalan.

Ilustrasi anak mengaji Alquran.
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Ilustrasi anak mengaji Alquran.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pagi selalu datang membawa cahaya, tetapi tidak selalu membawa kepastian. Ada hari-hari ketika langkah terasa berat, pikiran dipenuhi pertanyaan, dan masa depan seakan tertutup kabut.

Kita telah menyusun rencana, menimbang berbagai kemungkinan, dan mengerahkan kemampuan, tetapi tetap tidak mengetahui ke mana perjalanan akan bermuara. Pada saat seperti itulah manusia menyadari betapa terbatas pengetahuannya, dan betapa ia membutuhkan bimbingan dari Zat Yang Maha Mengetahui.

Baca Juga

Alquran mengabadikan sebuah doa yang lahir dalam keadaan demikian. Doa itu dipanjatkan oleh sekelompok pemuda yang memilih mempertahankan keimanan sekalipun harus meninggalkan kenyamanan hidup mereka. Ketika berlindung di sebuah gua, mereka menyerahkan masa depannya kepada Allah melalui permohonan yang singkat, tetapi mengandung makna yang sangat dalam.

Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Kahf ayat 10:

رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Rabbanā ātinā mil ladunka raḥmataw wa hayyi' lanā min amrinā rasyadā.

"Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami."

(QS. Al-Kahf: 10, penggalan ayat)

Doa ini merupakan bagian dari kisah Ashabul Kahfi, sekelompok pemuda beriman yang menghadapi tekanan dari masyarakat dan penguasa yang menentang keyakinan mereka. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa para pemuda tersebut meninggalkan kaumnya untuk menyelamatkan agama dan keimanannya. Mereka berlindung di sebuah gua, kemudian memohon rahmat serta perlindungan Allah agar terhindar dari gangguan orang-orang yang hendak memalingkan mereka dari kebenaran.

Menariknya, permohonan pertama yang mereka panjatkan bukanlah keselamatan fisik, kelapangan rezeki, ataupun kemenangan atas pihak yang mengancam mereka. Mereka lebih dahulu meminta rahmat Allah: rabbanā ātinā mil ladunka raḥmah. Sebuah permohonan yang memperlihatkan kesadaran bahwa pertolongan sejati bersumber dari kasih sayang Allah, bukan semata-mata dari kekuatan dan kecerdikan manusia.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa rahmat dalam ayat ini mencakup perlindungan dan kelembutan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sementara itu, Syekh Abdurrahman As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menerangkan bahwa rahmat yang dimohonkan para pemuda tersebut meliputi keteguhan hati, perlindungan dari keburukan, dan pertolongan untuk memperoleh kebaikan. Dengan demikian, rahmat bukan hanya berkaitan dengan terbebasnya manusia dari kesulitan, melainkan juga kemampuan untuk tetap teguh dalam kebenaran ketika kesulitan belum berakhir.

Setelah memohon rahmat, Ashabul Kahfi melanjutkan doanya dengan kalimat wa hayyi' lanā min amrinā rasyadā. Mereka meminta agar Allah menyiapkan petunjuk yang benar dalam urusan yang sedang mereka hadapi. Permohonan ini mengandung kesadaran bahwa niat yang baik tetap membutuhkan bimbingan agar dapat diwujudkan melalui langkah yang benar.

Imam Ath-Thabari dalam Jami' Al-Bayan menjelaskan bahwa kata rasyadā dalam ayat tersebut berkaitan dengan ketepatan dalam menempuh perbuatan yang dicintai Allah. Para pemuda itu memohon agar Allah memudahkan jalan mereka menuju keridaan-Nya dan menjauhkan mereka dari kekufuran. Sementara Ibnu Katsir menekankan bahwa permohonan tersebut juga mencakup harapan agar Allah menetapkan akhir yang baik bagi urusan yang mereka jalani.

Di sinilah letak kedalaman doa Ashabul Kahfi. Mereka tidak sekadar meminta agar urusannya menjadi mudah, tetapi agar urusannya berjalan menuju kebenaran. Sebab, tidak setiap kemudahan membawa kebaikan, sebagaimana tidak setiap kesulitan menandakan keburukan. Ada jalan yang tampak lapang tetapi menjauhkan manusia dari tujuan hidupnya, dan ada jalan yang sempit namun justru mengantarkannya kepada rida Allah.

 

Berita Terkait
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi