REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK — Pengasuh Pondok Pesantren Cendikia Amanah Depok, KH M Cholil Nafis mengingatkan bahwa penyakit hati berawal dari bergesernya kecenderungan hati manusia dari Allah SWT. Semakin jauh seseorang dari jalan yang diridhai Allah, semakin besar pula potensi penyakit spiritual menguasai dirinya.
"Setiap hati yang condong kepada sesuatu selain Allah Ta'ala, tidak akan lepas dari penyakit. Kadar penyakit itu sesuai dengan tingkat kemiringannya dari jalan Allah," ujar Kiai Cholil dalam pengajian rutin Sabtu Mujahadah yang mengkaji Kitab Mauidzotul Mu'minin di Pondok Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat, Sabtu (10/10/2026).
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini menjelaskan, shiratal mustaqim atau jalan yang lurus menjadi tolok ukur kelurusan hati seorang Muslim. Orientasi hidup yang berpusat pada keridhaan Allah SWT akan menjaga seseorang agar tidak mudah menyimpang dalam menentukan tujuan dan mengambil keputusan.
Menurut dia, ketika orientasi tersebut mulai bergeser, seseorang perlu mengevaluasi niat dan kecenderungan hatinya. Sebab, penyakit hati tidak selalu tampak dalam perilaku lahiriah, tetapi juga dapat berawal dari perubahan orientasi batin.
Kendati demikian, Kiai Cholil menegaskan, kecintaan terhadap harta dan kekuasaan tidak serta-merta menjadi penyakit hati. Keduanya dapat bernilai positif apabila digunakan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan manfaat bagi sesama.
"Secara tabiat, manusia memang dibekali kecenderungan mencintai harta maupun kekuasaan. Hal itu tidak buruk, asal digunakan untuk menolong cinta kita kepada Allah. Mencari harta sebanyak-banyaknya untuk membangun sekolah, membiayai santri, atau mendukung kelancaran dakwah itu justru hal yang mulia," jelas Rais Syuriah PBNU ini.
Kiai Cholil mencontohkan, seseorang yang memiliki kemampuan finansial memadai dapat memanfaatkan hartanya untuk mendukung pendidikan dan kegiatan dakwah. Demikian pula seorang dai atau ulama yang berkecukupan dapat lebih fokus menjalankan misi dakwah tanpa terlalu terbebani persoalan ekonomi rumah tangga.