REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Anak muda sekarang, yang lazim disebut sebagai Generasi-Z (Gen-Z), terbilang masih memiliki minat terhadap buku fisik di tengah semakin banyaknya konten digital. Meski demikian, ada perubahan dalam cara mereka mendapatkan buku yang lebih memilih platform digital.
Direktur Ikapi Mokhamad Natsir mengatakan, kehadiran media digital tidak serta merta membuat minat Gen Z terhadap buku fisik hilang. Menurut dia, Gen Z dan generasi milenial masih memiliki peluang besar sebagai pembaca dan pembeli buku.
“Sebetulnya tidak ada perbedaan. Bahkan sekarang Singapura dan beberapa negara di Eropa sudah lari lagi ke buku. Bukan lagi kepada HP,” kata Natsir saat ditemui dalam gelaran Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026 di Jakarta International Convention Center (JJIC), Jakarta, Jum’at (2/10/2026).
Menurut Natsir, buku fisik memiliki karakter yang berbeda dengan bacaan singkat yang banyak ditemukan di media digital. Buku itu, kata dia, memberikan informasi yang lebih terstruktur, baik untuk bacaan referensi maupun novel. Karena itu, keberadaan buku fisik dinilai masih memiliki tempat di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin dekat dengan media digital.
“Kalau bacaan informasi, buku referensi, dengan buku novel, perlu harus ada kejelasan dan keabsahan, kemudian bahasanya juga lebih santai. Dibandingkan scroll scroll yang terkadang bahasanya lebih pusing,” ujar dia.
Meski demikian, Natsir menilai penerbit perlu mengikuti perubahan kebiasaan Gen Z dalam membeli buku. Menurut dia, anak muda tidak lagi harus datang langsung ke pameran atau toko buku untuk mendapatkan bacaan yang mereka inginkan. “Tidak selalu harus ke stand, tidak harus ke toko buku, tidak harus ke agen agen. Mereka bisa mengakses dengan media sosial saat sekarang ini,” katanya.
Dalam buku Islam, Natsir mengatakan minat Gen Z cenderung berjalan biasa dan belum menunjukan peningkatan yang signifikan. Namun, terdapat jenis buku Islam yang tetap mampu menarik perhatian gen Z, terutama ketika nilai nilai Islam dikemas melalui cerita yang lebih ringan dan dekat dengan karakter mereka.
Ia mencontohkan Api Tauhid karya Habiburrahman El Shirazy yang mengangkat sejarah tokoh Islam melalui bentuk novel. Menurut Natsir, pendekatan semacam itu membuat pembaca muda lebih menerima materi sejarah yang mungkin terasa berat jika disampaikan daalm bentuk referensi biasa.
“Kalau sejara dibaca langsung kan pusing, tetapi dinovelkan, seperti Api Tuhid, itu luar biasa. Bahkan Gen Z juga banyak yang membeli. Kita lebih cenderung bagaimana memasukan ruh Islamnya melalui hal hal seperti itu,” ujarnya.
Natsir mengatakan, selain novel, buku motivasi juga masih memiliki peminat dikalangan Gen Z. bacaan tersebut dinilai sesuai dengan kebutuhan anak muda yang sedang mencari arah mengenai pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan mereka.