REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — KH Imam Jazuli dan Irfan Asy'ari Sudirman Wahid atau Gus Ipang masuk dalam jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Masuknya dua nama yang selama ini memiliki perhatian terhadap pengembangan pesantren tersebut memunculkan harapan baru terhadap penguatan tata kelola, transformasi digital, dan komunikasi pesantren.
Dalam struktur yang diumumkan PBNU pada Rabu (30/9/2026) malam, KH Imam Jazuli dipercaya menjadi salah satu Rais pada jajaran Syuriyah. Sementara Gus Ipang menempati posisi Wakil Ketua Umum pada jajaran Tanfidziyah PBNU.
Kepengurusan PBNU 2026–2031 dipimpin KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum. Prof KH Mohammad Nuh menempati posisi Katib Aam, sedangkan Gudfan Arif dipercaya menjadi Sekretaris Jenderal PBNU.
Struktur baru PBNU beranggotakan 210 orang, bertambah 21 orang dibandingkan kepengurusan periode sebelumnya yang berjumlah 189 orang. Mereka tersebar dalam unsur Mustasyar, Syuriyah, A'wan, dan Tanfidziyah dengan komposisi yang disebut PBNU mempertimbangkan pemerataan generasi serta keterwakilan unsur organisasi.
Secara kelembagaan, posisi Imam Jazuli dan Gus Ipang berada pada dua wilayah kepengurusan yang berbeda. Syuriyah merupakan jajaran yang berhubungan dengan kepemimpinan keagamaan dan arah kebijakan keulamaan, sedangkan Tanfidziyah menjalankan fungsi eksekutif dan pelaksanaan program organisasi.
Masuknya Imam Jazuli dan Gus Ipang menarik perhatian terutama karena keduanya sebelumnya telah berkolaborasi dalam agenda pengembangan pesantren. Keduanya antara lain terlibat dalam workshop transformasi pesantren yang membahas penguatan manajemen lembaga, teknologi, hingga strategi komunikasi publik.
Agenda tersebut berangkat dari tantangan yang semakin kompleks dihadapi pesantren. Perubahan teknologi, pola belajar generasi muda, kompetisi lembaga pendidikan, serta perkembangan media digital membuat pesantren tidak hanya dituntut menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga memperkuat tata kelola kelembagaan.
Imam Jazuli selama ini dikenal melalui pengembangan Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon, Jawa Barat. Di lembaga tersebut, sejumlah pembaruan dilakukan dalam aspek manajemen, kurikulum, metode pembelajaran, hingga pengembangan kelembagaan pesantren.
Perhatiannya terhadap masa depan NU juga dituangkan melalui buku dan sejumlah tulisan di media. Salah satu isu yang kerap disorotnya adalah bagaimana NU memasuki abad kedua dengan tetap berpijak pada tradisi, tetapi memiliki kapasitas kelembagaan untuk menjawab perubahan sosial dan teknologi.
Sementara itu, Gus Ipang memiliki latar belakang panjang di bidang komunikasi, periklanan, dan industri kreatif. Kehadirannya di jajaran Wakil Ketua Umum PBNU membuka ruang bagi penguatan strategi komunikasi organisasi, termasuk bagaimana pesantren dan berbagai program NU dikomunikasikan kepada masyarakat yang semakin terkoneksi melalui platform digital.
Bagi pesantren, komunikasi publik saat ini menjadi persoalan yang semakin penting. Banyak pesantren memiliki kekuatan pendidikan, tradisi keilmuan, jaringan sosial, serta program pemberdayaan masyarakat, tetapi belum seluruhnya mampu mengemas dan menyampaikan kekuatan tersebut secara efektif kepada publik.
Karena itu, kolaborasi antara perspektif kepesantrenan dan kemampuan komunikasi dinilai dapat menjadi modal penting dalam mendorong transformasi lembaga pendidikan berbasis pesantren. Transformasi tersebut bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan memperkuat kemampuan pesantren merespons perubahan tanpa kehilangan identitas dan karakter pendidikannya.
Pemerhati pendidikan pesantren Muhammad Husain Sanusi menilai masuknya Imam Jazuli dan Gus Ipang memberikan harapan terhadap agenda pembaruan pesantren di lingkungan NU.