Kamis 01 Oct 2026 21:16 WIB

Renggang Sejak Assad Tumbang, Apakah Suriah dan Iran akan Kembali Rekat?

Iran memandang Suriah mempunyai peran strategis.

Ilustrasi Suriah Iran
Foto: Gemini AI
Ilustrasi Suriah Iran

REPUBLIKA.CO.ID, DAMASKUS — Dampak dari jatuhnya rezim Presiden Suriah yang terguling, Bashar al-Assad, pada akhir 2024 tidak hanya berpengaruh terhadap situasi politik dalam negeri Suriah.

Peristiwa tersebut juga membawa perubahan besar dalam posisi regional dan internasional negara itu, sekaligus mengakhiri hubungan dekat antara Iran dan Suriah yang telah terjalin sejak keberhasilan Revolusi Iran pada 1979.

Baca Juga

Hubungan Suriah dan Iran memasuki fase putusnya hubungan secara menyeluruh setelah jatuhnya Assad.

Pemerintah Suriah yang baru juga tidak menunjukkan kelonggaran terhadap Teheran sebagaimana yang ditunjukkannya terhadap Rusia, yang sebelumnya turut mendukung rezim Assad.

Hubungan Suriah dan Iran berkembang pesat sejak 1979. Suriah, di bawah pemerintahan Presiden Hafez al-Assad, merupakan negara Arab pertama yang mengakui pemerintahan baru Iran setelah Revolusi Iran, serta menjadi negara ketiga di dunia yang mengakuinya setelah Uni Soviet dan Pakistan.

Hafez al-Assad berpihak kepada Iran dalam perang melawan Irak yang berlangsung hampir delapan tahun. Pada 1982, ia juga menutup jalur pipa minyak Kirkuk-Banias.

Bagi Iran, Suriah merupakan mata rantai penting dalam membangun pengaruhnya di kawasan.

Melalui Suriah, Teheran memperluas pengaruhnya ke Lebanon dan mendukung pembentukan Hizbullah. Suriah memainkan peran penting dalam memberikan dukungan kepada kelompok tersebut.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi