REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sejumlah mahasiswa menilai sejarah Gerakan 30 September (G30S) masih penting dipelajari generasi muda. Meski demikian, film Pengkhianatan G30S/PKI dinilai perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter penonton muda saat ini.
Saat ditemui Republika, Rabu (30/9/2026), Falah Bayu Nugraha, 22 tahun, mahasiswa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Arab (LIPIA), mengaku pertama kali mengetahui peristiwa G30S melalui film dokumenter ketika masih SMA. Menurut dia, sejarah tersebut penting diketahui generasi muda agar peristiwa masa lalu dapat menjadi pembelajaran.
“Generasi muda perlu membaca sejarahnya agar apa yang diketahui di masa lalu itu bisa menjadi pelajaran dan tidak terjadi lagi di masa depan,” kata Falah.
Meski menilai film Pengkhianatan G30S/PKI masih dapat memberikan gambaran mengenai sejumlah peristiwa, Falah menilai film tersebut membutuhkan pembaruan dari sisi visual dan penyajiannya. “Alangkah baiknya untuk membuat ulang sejarah tersebut dalam dokumentasi film,”kata dia.
Khalid Saifullah, 19 tahun, mahasiswa lainnya, pertama kali mengenal G30S ketika masih duduk di sekolah dasar. Kholid menilai pengetahuan sejarah tetap penting bagi anak muda.
Namun, ia mengaku film Pengkhianatan G30S/PKI kurang menarik baginya karena durasinya panjang dan kualitas gambar yang sudah lama. Menurut dia, karakter gen Z yang terbiasa dengan konten singkat membuat film tersebut lebih sulit menarik perhatian. “kalau menurut ana membosankan. Filmnya panjang, terus kualitasnya juga kurang bagus,” kata Kholid.
Kholid bahkan menilai film tersebut sudah kurang relevan jika ditonton secara utuh oleh Gen Z. Menurut dia, materi sejarah dapat disajikan melalui format yang lebih singkat dan sesuai dengan kebiasaan konsumsi informasi generasi muda.
Mahasiswa lainnya, Shafira Izatunnisa, 22, menilai film tersebut masih relevan, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya rujukan untuk memahami sejarah G30S. Menurut Shafira, generasi muda dapat menggunakan film tersebut sebagai salah satu bahan untuk membuka diskusi dan kemudian membandingkannya dengan sumber sejarah lainnya.
“Film tersebut masih relevan untuk ditonton Gen Z sekarang, namun tidak untuk ditelan mentah-mentah sebagai satu satunya fakta sejarah,” kata Shafira.
Ia mengatakan pemahamannya mengenai G30S juga mengalami perubahan setelah memperoleh informasi dari buku, internet, dan media sosial. Perbedaan penjelasan mengenai latar belakang serta pihak yang terlibat, menurut dia, membuat pentingnya membandingkan sejumlah sumber.
“Perlu membandingkan beberapa sumber agar tidak mendapatkan satu sudut pandang,”kata dia.