REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG— Memaknai peringatan peristiwa sejarah Gerakan 30 September (G30S/PKI), Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) mengingatkan seluruh elemen bangsa bahwa ancaman terhadap ideologi negara kini telah bertransformasi secara signifikan.
Jika dahulu sejarah mencatat ancaman berupa gerakan fisik, pemberontakan, dan kekuatan bersenjata, saat ini infiltrasi menyusup secara halus ke ranah pemikiran masyarakat melalui ruang digital.
Ketua Lembaga Dakwah Islam Indonesia yang membidangi Hubungan Antar Lembaga, yang juga Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Diponegoro (Undip) Singgih Tri Sulistiyono, menegaskan peringatan sejarah kelam ini tidak bertujuan untuk memelihara kebencian, melainkan sebagai cambuk kewaspadaan di tengah derasnya arus informasi.
Dia menyebut, jika dahulu ancaman terhadap negara lebih mudah dikenali melalui gerakan fisik, saat ini ancaman menyusup secara halus melalui media sosial, propaganda digital, disinformasi, intoleransi, dan narasi yang mempertentangkan agama dengan negara.
"Karena itu, ketahanan ideologi umat harus diperkuat dengan literasi digital dan pemahaman agama yang moderat," ujarnya.
Dalam meredam potensi gesekan horizontal, Lembaga Dakwah Islam Indonesia secara aktif menjalin sinergi dengan pemerintah dan berbagai ormas untuk menjadikan jaringan hingga tingkat desa sebagai sarana deteksi dini sosial.
Meskipun demikian, langkah tersebut ditegaskan harus selalu mengedepankan mekanisme hukum dan koordinasi dengan lembaga berwenang.
Dia mengingatkan deteksi dini tidak boleh berubah menjadi kecurigaan dan pelabelan secara sembarangan.
Pendekatan persuasif, edukatif, dan kekeluargaan harus didahulukan agar masyarakat yang terpapar paham ekstrem dapat dirangkul kembali, bukan justru semakin terasing.
Menyadari bahwa generasi muda sering kali merasa berjarak dengan narasi sejarah G30S/PKI, organisasi ini melakukan adaptasi strategis dalam metode komunikasi dakwah agar pesan kewaspadaan nasional tidak sekadar menjadi angin lalu.
"Sejarah pemberontakan adalah pelajaran untuk kita agar memperkuat komitmen generasi muda terhadap NKRI dan Pancasila," kata dia.
Pesannya dikemas secara menarik melalui video pendek, siniar, dan infografis, dengan tujuan bukan memelihara dendam, melainkan menjadikan sejarah sebagai kompas untuk menjaga persatuan kesatuan bangsa.