REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV- Berbagai indikasi mengenai perubahan citra Israel di luar negeri semakin bermunculan, bahkan di dalam media Israel sendiri.
Hal itu terlihat dalam sejumlah laporan surat kabar dan situs berita Israel. Mulai dari ruang sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tempat puluhan delegasi meninggalkan ruangan ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato, hingga langkah-langkah pemerintah Belanda yang menyasar produk-produk permukiman Israel, dan peringatan dari pihak Israel mengenai meluasnya aksi boikot serta memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.
Dalam sebuah artikel di surat kabar Haaretz, seniman Palestina-Israel Tamer Nafar menulis bahwa dunia mulai melihat Israel dengan mata Palestina.
Menurutnya, berbagai pemandangan yang terjadi di PBB mencerminkan meningkatnya kesadaran dunia terhadap apa yang ia sebut sebagai keterasingan, kesombongan, dan kejahatan Israel.
Pandangan tersebut sejalan dengan tiga laporan dan analisis yang dimuat Ynet, serta sebuah laporan di Israel Hayom, dikutip Aljazeera, Selasa (29/9/2026), meskipun terdapat perbedaan orientasi politik di antara media-media tersebut.
Dari media yang berhaluan kanan hingga kiri Israel, muncul satu gagasan yang berulang yaitu tekanan terhadap Israel tidak lagi terbatas pada kritik politik, tetapi mulai diwujudkan dalam tindakan nyata yang berdampak pada perdagangan, hubungan diplomatik, perjalanan, kebudayaan, olahraga, dan penelitian ilmiah.
Pada saat yang sama, sejumlah hubungan tradisional Israel dengan negara-negara sekutunya mulai mengalami kemunduran.
Di Haaretz, Nafar menyoroti perubahan citra moral dan politik Israel. Ia menggambarkan pemandangan ketika para delegasi meninggalkan ruang sidang Majelis Umum PBB saat Netanyahu berpidato sebagai sesuatu yang menurutnya membahagiakan.