Selasa 29 Sep 2026 23:21 WIB

Di Balik Desingan Peluru dan Dentuman Bom, Perang Intelijen Antara Houthi dan Saudi Menentukan

Houthi Yaman lancarkan serangan ke Saudi.

Militan Houthi mendukung Iran saat aksi di Sanaa, Yaman, Jumat (10/7/2026).
Foto: EPA/Yahya Ahrab
Militan Houthi mendukung Iran saat aksi di Sanaa, Yaman, Jumat (10/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, SANAA-Penulis Nawaf Obaid menilai bahwa peta kekuatan militer di Yaman sedang mengalami perubahan penting.

Pada fase sebelumnya, Houthi dinilai berhasil memanfaatkan sejumlah kelemahan di front barat melalui sistem komando dan kendali yang kompleks.

Baca Juga

Sistem tersebut disebut memadukan informasi intelijen Rusia yang diperoleh melalui satelit dengan kemampuan Iran dalam mengolah dan memanfaatkan informasi tersebut untuk operasi di lapangan.

Selain itu, menurut penulis, terdapat pula unsur infiltrasi manusia di dalam pasukan Perlawanan Nasional yang dipimpin Tareq Saleh.

Menurut analisis tersebut, kemajuan Houthi bukan terutama disebabkan oleh keunggulan jumlah pasukan, melainkan karena mereka memperoleh gambaran yang relatif akurat mengenai posisi lawan, markas komando, jalur komunikasi, serta berbagai celah dalam koordinasi di antara pasukan yang berseberangan dengan mereka.

Informasi tersebut memungkinkan Houthi mengeksploitasi kelemahan di kawasan pesisir barat Yaman.

Dalam artikel opini yang diterbitkan Aljazeera, dikutip Selasa (29/9/2026), Obaid menjelaskan Rusia menyediakan elemen intelijen geospasial berbasis satelit dan intelijen sinyal.

Sementara itu, Iran disebut berperan mengintegrasikan informasi tersebut ke dalam sistem komando Houthi.

Hal itu memungkinkan pelacakan pergerakan pasukan, posisi mereka, pola komunikasi, serta hubungan antarpimpinan.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi