REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Syekh yang mulia, Umar al-Mukhtar, dilahirkan dari kedua orang tua yang saleh pada 1862 M—meskipun ada pula yang menyebutkan tahun 1858 M.
Ayahnya, Mukhtar bin Umar, berasal dari suku al-Manfah, dari keluarga Farhat. Ia dilahirkan di wilayah al-Buthnan, Jabal al-Akhdhar (Gunung Hijau).
Umar al-Mukhtar tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang dikenal memiliki kemuliaan dan kedermawanan.
Sejak kecil, ia dikelilingi oleh keberanian, kehormatan, serta akhlak luhur kaum Muslimin dan sifat-sifat terpuji yang mereka peroleh dari ajaran gerakan Sanusiyah yang berlandaskan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. (Umar al-Mukhtar: Nasya'atuhu wa Jihaduhu, Dr Idris al-Hariri, hlm 65).
Dalam berbagai pertempuran selama perang Italia di Libya, khususnya dalam Pertempuran Kufra pada 1931, dunia Islam diguncangkan oleh berita tentang invasi tersebut.
Amir Syakib Arslan kemudian mengirimkan sejumlah tulisan dan surat yang mengungkap berbagai kekejaman yang terjadi setelah pasukan Italia memasuki wilayah Kufra.
Mengenai hal itu, Syakib Arslan berkata:
“Ketika saya menyelesaikan artikel yang saya terbitkan mengenai berbagai kekejaman di Tripolitania dan Cyrenaica pada 1931 M, setelah pasukan Italia memasuki Kufra, dunia Islam pun berguncang karena kemarahan.
Teriakan protes terdengar dari berbagai penjuru. Kemudian, saya menerima surat berikut dari syahid agung, pahlawan Jabal al-Akhdhar, Sayyid Umar al-Mukhtar.”