Jumat 25 Sep 2026 14:46 WIB

Konflik dengan Houthi Memanas, Mufti Besar Saudi Serukan Tentara Korbankan Nyawa untuk Bela Negara

Eskalasi kekerasan antara Saudi dengan Houthi kembali muncul.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Asap akibat insiden di dekat kompleks Abqaiq di Arab Saudi, 27 Juli 2026. Kerusakan yang tampak pada infrastruktur kilang lainnya terlihat di bagian kiri atas.
Foto: Sentinel-2/Copernicus
Asap akibat insiden di dekat kompleks Abqaiq di Arab Saudi, 27 Juli 2026. Kerusakan yang tampak pada infrastruktur kilang lainnya terlihat di bagian kiri atas.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH — Otoritas keagamaan tertinggi Arab Saudi menyerukan kepada para prajurit di Kerajaan Arab Saudi untuk bersiap mengorbankan nyawa demi memerangi kelompok Houthi, di tengah meningkatnya serangan yang dilancarkan oleh milisi yang didukung Iran, demikian diberitakan Arab News.

"Melindungi bangsa yang agung ini dan menghukum siapa pun yang berupaya menyentuh walau hanya sejengkal wilayahnya merupakan salah satu kewajiban terbesar dan bentuk pengabdian yang paling mulia, karenanya, nyawa dan jiwa boleh dikorbankan demi meraih rida Allah," kata Syekh Saleh bin Fawzan Al-Fawzan dalam pernyataan yang disiarkan oleh Saudi Press Agency.

Baca Juga

Pesan yang disampaikan dengan nada tegas dan jarang terjadi ini ditujukan kepada para prajurit yang ditempatkan di perbatasan negara dengan Yaman, serta banyak merujuk pada ayat-ayat Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW mengenai pengorbanan dan perjuangan demi membela jalan Allah.

Seruan ini muncul setelah berpekan-pekan terjadinya eskalasi kekerasan antara Arab Saudi dan Houthi, di mana kelompok yang didukung Iran tersebut menyerang Kerajaan Arab Saudi dengan rentetan rudal dan pesawat nirawak (drone), sementara Arab Saudi membalasnya dengan serangan udara, dikutip dari laman Arab News, Jumat (25/9)

Kelompok Houthi juga telah menguasai sebagian besar garis pantai Laut Merah Yaman, termasuk kota pelabuhan strategis Mokha dan kota pesisir Dhubab, serta bergerak menguasai pulau-pulau penting di dalam dan sekitar Selat Bab al-Mandab.

Kelompok tersebut juga telah merebut pulau-pulau strategis lainnya di Laut Merah, yang memberikan mereka kendali efektif atas sisi Yaman di Selat Bab al-Mandab serta kemampuan untuk mengancam atau mengganggu pelayaran yang melintas di antara Laut Merah dan Teluk Aden.

Perkembangan ini sangat signifikan karena Bab al-Mandab merupakan titik sempit (chokepoint) maritim utama yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan wilayah Samudra Hindia yang lebih luas. Kapal-kapal yang menggunakan rute ini dapat mencapai Terusan Suez dan pasar Eropa tanpa harus melewati Selat Hormuz.

photo
Para pelayat mengusung peti jenazah seorang pejuang Houthi yang tewas dalam pertempuran baru-baru ini saat prosesi pemakaman di Sanaa, Yaman, 15 September 2026. - ( EPA/YAHYA ARHAB)

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi