REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rektor Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur'an (PTIQ) Jakarta, Prof Nasaruddin Umar, menegaskan Alquran tidak cukup hanya dibaca dan dihafalkan. Menurut dia, Alquran harus dipahami, diteliti, dihayati, serta ditransformasikan menjadi sumber ilmu pengetahuan dan pedoman dalam membangun peradaban.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin saat memberikan sambutan dalam wisuda 1.005 lulusan Universitas PTIQ Jakarta dari jenjang sarjana, magister, dan doktor di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (23/9/2026).
"Di kampus ini, Alquran tidak hanya dibaca, dihafalkan, dan dilagukan, tetapi juga dipahami, diteliti, dihayati, dan ditransformasikan menjadi sumber ilmu pengetahuan, serta pedoman pembangunan peradaban,"ujar dia.
Menurut Menteri Agama tersebut, hal itu menjadi salah satu karakter sekaligus keunggulan PTIQ. Pendidikan Alquran di PTIQ, kata dia, dikembangkan dengan mengintegrasikan Alquran dengan ilmu pengetahuan, spiritualitas, teknologi, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Karena itu, Nasaruddin mengingatkan para lulusan agar tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan keislaman. Ilmu yang diperoleh harus melahirkan pribadi yang memiliki kepedulian dan pengabdian nyata di tengah masyarakat.
"Kita tidak ingin melahirkan lulusan hanya tajam akalnya, tetapi kering hatinya. Kita tidak ingin menghasilkan sarjana yang tinggi ilmunya, tetapi jauh dari masyarakat,"kata dia.