Senin 21 Sep 2026 17:34 WIB

Kurikulum Berbasis Cinta Didorong Jadi Penguat Madrasah Ramah Anak

Tantangan dunia pendidikan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) M. Arskal Salim saat ditemui di Lampung, Kamis (6/11/2025).
Foto: Republika/Havid Al Vizki
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama (Kemenag) M. Arskal Salim saat ditemui di Lampung, Kamis (6/11/2025).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Kementerian Agama (Kemenag) memperkuat upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan ramah bagi anak. Penguatan dilakukan melalui penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), Madrasah Ramah Anak, hingga pembiasaan peduli lingkungan di madrasah dan pesantren.

Sekretaris Direktorat Jenderal Kemenag M Arskal Salim GP mengatakan, tantangan dunia pendidikan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI). Perubahan tersebut berjalan beriringan dengan persoalan kekerasan dan pelanggaran hak anak.

Baca Juga

Menurut Arskal, perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan penguatan nilai kemanusiaan, toleransi, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap lingkungan. Karena itu, KBC didorong menjadi salah satu pendekatan untuk membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik.

Arskal menegaskan KBC bukan mata pelajaran atau kurikulum baru. Konsep tersebut merupakan pendekatan yang diintegrasikan dalam proses pembelajaran dan budaya di lingkungan pendidikan.

"Fokus kita dalam pembelajaran bukan hanya pada kemampuan akademik, tetapi juga pada tumbuhnya rasa cinta, rasa aman, kepedulian terhadap sesama, serta kepedulian untuk melestarikan lingkungan," ujar Arskal dalam Seminar Hibrid "Sinergi Pendidikan Berbasis Nilai Keagamaan, Hak Anak, dan Ramah Lingkungan" di Jakarta, Senin(21/9/2026).

Ia menjelaskan, nilai yang dikembangkan dalam KBC meliputi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu, cinta kepada lingkungan, cinta kepada diri sendiri dan sesama, serta cinta kepada Tanah Air. Pendekatan tersebut diharapkan membentuk peserta didik yang humanis, toleran, peduli terhadap sesama, mencintai lingkungan, dan memiliki rasa kebangsaan.

Salah satu praktik yang didorong adalah pengecekan kondisi peserta didik sebelum pembelajaran dimulai. Guru diharapkan mengetahui kondisi anak terlebih dahulu sehingga dapat menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai.

photo
Ilustrasi Siswa Madrasah - (dok. Republika)

 

Berita Lainnya

Rekomendasi