REPUBLIKA.CO.ID, MUSCAT — Pejabat Amerika Serikat (AS) menggelar pertemuan dengan perwakilan kelompok Houthi Yaman di Oman akhir pekan lalu. Pertemuan tersebut diungkapkan oleh lima sumber yang mengetahui masalah tersebut.
Pertemuan yang belum dipublikasikan ke publik itu berlangsung di Kedutaan Besar AS di Muscat. Pemerintah Oman, yang lama berperan sebagai mediator kawasan, membantu memfasilitasi jalannya pertemuan tersebut, seperti dilansir dari Al Arabiya, Kamis(16/9/2026).
Pemerintahan Donald Trump sebelumnya menetapkan Houthi sebagai "organisasi teroris asing" pada Maret 2025, yang memidanakan segala bentuk dukungan terhadap kelompok tersebut. Namun, Washington tetap menjalin negosiasi hingga mencapai kesepakatan gencatan senjata pada Mei tahun lalu, setelah dua bulan menggempur kelompok itu guna menghentikan serangan terhadap pelayaran di Laut Merah.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Ahad tersebut, perwakilan Houthi menyampaikan kepada pejabat AS bahwa mereka tidak berniat menyerang kapal-kapal Amerika. Houthi juga menegaskan komitmen mereka terhadap kesepakatan gencatan senjata tahun 2025 dengan AS.
Salah seorang sumber asal Yaman menyebutkan, kelompok milisi tersebut juga menyatakan tidak akan menyerang kapal-kapal milik Israel.
Dua sumber mengonfirmasi pihak AS diwakili oleh personel kedutaan besar. Sementara itu, delegasi Houthi dihadiri oleh pejabat senior yang berdomisili di Muscat dan tengah dijatuhi sanksi oleh AS, Mohammad Abdulsalam, serta pejabat senior Houthi lainnya, Abdelmalik al-Ajiri.
Saat dikonfirmasi mengenai pertemuan di Oman tersebut, juru bicara Departemen Luar Negeri AS tidak memberikan pembenaran secara langsung. Namun, ia menegaskan bahwa menjaga kebebasan navigasi di Laut Merah serta mencegah ekspor terorisme dari Timur Tengah merupakan kepentingan utama AS.
Pihak Kedutaan Besar Oman di AS maupun pejabat senior Houthi, Mohammad Abdulsalam, belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan konfirmasi ini.