Ahad 13 Sep 2026 12:09 WIB

MTQ Nasional ke-31 di Jateng, Menag Dorong Peserta Jadi 'Alquran Berjalan'

MTQ Nasional berlangsung pada 11–20 September 2026.

Rep: Muhyiddin/ Red: Nashih Nashrullah
Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Foto: Republika/Frederik Dominggus Bata
Menteri Agama Nasaruddin Umar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Menteri Agama (Menang) RI, Nasaruddin Umar meminta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026 tidak berhenti sebagai ajang perlombaan.

Lebih dari itu, MTQ diharapkan menjadi momentum melahirkan generasi yang mampu menjadikan nilai-nilai Alquran sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga

Nasaruddin mengatakan, kemampuan membaca dan menghafal Alquran merupakan bagian dari proses mendekatkan diri kepada kitab suci.

Namun, proses tersebut tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca atau menghafal. Nilai-nilai Alquran harus diterjemahkan dalam sikap, perilaku, dan cara seseorang menyelesaikan persoalan kehidupan.

“Jadi ada beberapa kategori, ada yang dekat dengan Alquran, ada yang melekat dengan Alquran, dan ada yang menjadi living Quran, (being the Quran), ibaratnya sudah seperti Quran berjalan,” ujar Nasaruddin dalam siaran persnya di Jakarta, Ahad (13/9/2026).

Menurut dia, MTQ semestinya tidak hanya melahirkan qari, qariah, hafiz, dan hafizah berprestasi. Para peserta juga diharapkan mampu membawa nilai-nilai Alquran ke tengah masyarakat setelah kompetisi berakhir.

Menag menekankan, orang yang dekat dengan Alquran semestinya mampu menghadirkan pengaruh positif di lingkungannya.

Karena itu, dia mendorong para peserta MTQ menjadi pribadi yang mampu menjaga harmoni dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

“Jadilah sebagai penjernih, bukan pengeruh, jadilah penghubung, bukan pemisah, jadilah moderator, bukan provokator, jadilah problem solver, bukan problemator, jadilah penyuluh, bukan perusuh,” ucapnya.

Dengan demikian, keberhasilan MTQ tidak semata-mata ditentukan oleh siapa yang menjadi juara. Prestasi yang diraih di arena musabaqah diharapkan berlanjut menjadi keteladanan ketika para peserta kembali ke lingkungan masing-masing.

Berita Lainnya

Rekomendasi