REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Menteri Agama (Menag) Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan, penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI bukan sekadar kompetisi, tapi momentum wujudkan Living Quran, yakni nilai-nilai Alquran yang hidup dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
“Jadi ada beberapa kategori, ada yang dekat dengan Alquran, ada yang melekat dengan Alquran, dan ada yang menjadi living Quran, (being the Quran), ibaratnya sudah seperti Quran berjalan,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, Jumat(11/9/2026).
Menurut menag, membaca dan menghafal Alquran merupakan bagian dari proses mendekatkan diri kepada kitab suci. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan.
View this post on Instagram
Alquran, kata dia, harus hadir dalam cara manusia bersikap, menyelesaikan persoalan, dan membangun hubungan dengan sesama. Menag menegaskan semangat MTQ bukan hanya melahirkan qari, qariah, hafiz, dan hafizah berprestasi.
“Jadilah sebagai penjernih bukan pengeruh. Jadilah penghubung bukan pemisah. Jadilah moderator bukan provokator. Jadilah problem solver bukan problemator. Jadilah penyuluh bukan perusuh,” kata Menag Nasaruddin Umar.
Karena itu, menurut menag, keberhasilan MTQ tidak cukup diukur dari siapa yang meraih juara. Para peserta diharapkan membawa semangat dan nilai Alquran setelah kembali ke lingkungan masing-masing. Prestasi di arena musabaqah harus berlanjut menjadi keteladanan di tengah masyarakat.