Selasa 08 Sep 2026 18:39 WIB

Dua Juta Orang Bershalawat, Kemenag: Kuatnya Cinta Umat kepada Rasulullah

Jumlah tersebut bahkan melampaui target nasional sebanyak 1.781.945 peserta.

Rep: Muhyiddin,/ Red: A.Syalaby Ichsan
Shalawat (Ilustrasi).
Foto: Republika/Thoudy Badai
Shalawat (Ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,  CIREBON — Lebih dari dua juta orang bershalawat untuk Indonesia. 'Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan 2026' mencatat sebanyak 2.041.377 peserta mengikuti pembacaan Dala’il al-Khayrat dari 23.688 titik yang tersebar di 35 provinsi.

Jumlah tersebut bahkan melampaui target nasional sebanyak 1.781.945 peserta. Artinya, partisipasi masyarakat mencapai 115 persen dari target. Gerakan yang digagas Kementerian Agama itu mencapai puncaknya melalui Khataman Nasional Dala’il al-Khayrat dan pemberian Ijazah Kubra di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Senin (7/9/2026).

Baca Juga

Direktur Penerangan Agama Islam Kementerian Agama (Kemenag) Muchlis M Hanafi mengatakan, jutaan Muslim yang bershalawat tersebut menjadi cerminan kuatnya kecintaan umat Islam Indonesia kepada Rasulullah SAW. Menurut dia, shalawat juga menjadi sarana untuk merawat kebersamaan di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

“Alhamdulillah, partisipasi masyarakat mencapai lebih dari 2,04 juta orang atau 115 persen dari target. Angka ini bukan semata-mata capaian kuantitatif, tetapi mencerminkan kuatnya kecintaan umat kepada Rasulullah SAW dan besarnya semangat masyarakat untuk merawat kebersamaan melalui gema selawat,” ujar Muchlis dalam keterangan yang diterima Republika, Selasa (8/9/2026).

'Gerakan Nasional Gema Selawat Kebangsaan' merupakan bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Tingkat Nasional 1448 H. Gerakan tersebut diluncurkan Menteri Agama pada 26 Agustus 2026 dengan semangat “Berselawat untuk Negeri, Meneladani Sirah Nabi”. Pembacaan Dala’il al-Khayrat dimulai secara nasional pada 31 Agustus 2026 dan dikhatamkan serentak pada 7 September 2026.

Bagi Kementerian Agama(Kemenag), shalawat bukan sekadar rangkaian bacaan keagamaan. Gerakan ini juga menjadi ikhtiar batin untuk memperkuat ketahanan spiritual masyarakat ketika bangsa menghadapi berbagai tekanan, mulai dari persoalan ekonomi dan sosial hingga bencana alam. Doa juga dipanjatkan bagi masyarakat di berbagai daerah yang tengah menghadapi erupsi gunung berapi, kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, serta musibah lainnya.“Bangsa ini membutuhkan ikhtiar lahir sekaligus ikhtiar batin. Keduanya saling melengkapi, bukan saling menggantikan,” kata Muchlis.

photo
Muchlis M Hanafi - (Dok Istimewa )

 

Berita Lainnya

Rekomendasi