Selasa 08 Sep 2026 08:28 WIB

Ketika Sejarawan Barat Mengakui Fitrah Manusia adalah Tauhid, tapi Mengapa Banyak Ingkar?

Sejumlah sejarawan Barat menolak klaim kemusyrikan sebagai fitrah manusia.

Ilustrasi berdoa kepada Allah SWT sebagai fitrah manusia.
Foto: Republika/Prayogi
Ilustrasi berdoa kepada Allah SWT sebagai fitrah manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Pada dasarnya, manusia diciptakan dalam keadaan bertauhid. Tauhid merupakan bentuk keyakinan keagamaan pertama yang dikenal umat manusia.

Seiring perjalanan waktu, manusia mulai menyimpang dari fitrah tersebut. Penyimpangan itu berlangsung secara bertahap hingga akhirnya sebagian manusia terjerumus ke dalam kemusyrikan.

Baca Juga

“Inilah kebenaran yang tidak diragukan,” kata Sekretaris Jenderal Persatuan Ulama Muslim Sedunia, Dr Ali Muhammad ash-Shallabi, dikutip dari laman resminya, Selasa (9/9/2026).

Dia menyebut pandangan tersebut selaras dengan Alquran, sunnah, fitrah manusia, dan akal sehat yang sejalan dengan dalil-dalil yang sahih.

Menariknya, kesimpulan serupa juga ditemukan oleh sejumlah ahli arkeologi dan peneliti agama, baik dari kalangan Barat maupun lainnya.

Dia membeberkan sejumlah contoh sebagai berikut:

1. Penelitian tentang agama-agama masyarakat primitif

Peneliti Addison Huybel, yang dikenal menekuni kajian tentang agama-agama masyarakat primitif, mengatakan bahwa masa ketika manusia purba dianggap tidak mampu memikirkan konsep tentang Tuhan Yang Mahasuci atau Tuhan Yang Mahabesar telah berlalu.

Menurutnya, Tylor telah keliru ketika menganggap pemikiran keagamaan yang monoteistik sebagai hasil dari kemajuan peradaban dan peningkatan pengetahuan manusia.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi