Senin 07 Sep 2026 09:48 WIB

Apakah Perang AS Israel Melawan Iran Berakhir dengan Kemenangan? Ini Kata Analis

Iran tegaskan akan melawan jika diserang.

Billboard menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump terpampang di salah satu jalan di Teheran, Iran, Senin (27/7/2026).
Foto: EPA/Abedin Taherkenareh
Billboard menampilkan wajah Presiden AS Donald Trump terpampang di salah satu jalan di Teheran, Iran, Senin (27/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, DOHA — Perang Teluk yang berlangsung saat ini dinilai memiliki karakter yang berbeda dari perang-perang sebelumnya.

Konflik tersebut tidak menunjukkan pola perang yang berakhir dengan kemenangan mutlak salah satu pihak maupun penyelesaian berdasarkan prinsip tidak ada pemenang dan tidak ada pihak yang kalah.

Baca Juga

Pandangan itu disampaikan politikus dan mantan menteri Yordania, Samir Habashneh, dalam analisisnya mengenai pilihan dan kemungkinan akhir dari perang Teluk saat ini, dikutip dari Aljazeera, Senin (7/9/2026).

Menurut Samir, dalam sejarah, perang umumnya berakhir melalui dua kemungkinan. Pertama, kemenangan menentukan salah satu pihak yang kemudian diikuti penyerahan diri dan pemberlakuan syarat-syarat dari pihak pemenang.

Kedua, perang berakhir setelah kedua belah pihak terkuras tanpa ada kemenangan yang menentukan, sehingga mereka memilih menghentikan pertempuran dan mencapai kesepakatan yang mengakomodasi kepentingan masing-masing.

Perang Iran-Irak selama delapan tahun menjadi salah satu contoh pola kedua. Tidak ada pihak yang berhasil mencapai tujuan utamanya.

Irak tidak berhasil merebut kembali wilayah Arabistan, sementara Iran juga gagal menggulingkan pemerintahan Partai Baath di Irak.

Namun, menurut Samir, perang-perang Amerika Serikat pada era modern juga menunjukkan persoalan lain.

“Amerika memang kalah dalam perang-perangnya, tetapi tidak belajar dari pengalaman itu untuk kemudian memulai perang baru,” kata Samir yang juga Sekretaris Jenderal Kelompok Perdamaian Arab ini.

Dia mencontohkan Perang Vietnam. Amerika Serikat kehilangan lebih dari 60 ribu personel militernya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi