Kamis 03 Sep 2026 09:45 WIB

Jadi Whistleblower, Tentara Israel Ungkap Cara IDF Susun Narasi Palsu di Gaza untuk Media

Media massa internasional tergantung dengan apa narasi yang dirilis IDF.

Tentara Israel menghadiri pemkaman rekannya yang tewas di Gaza, di pemakaman militer Mount Herzl di Yerusalem, 27 April 2025.
Foto: EPA-EFE/ABIR SULTAN
Tentara Israel menghadiri pemkaman rekannya yang tewas di Gaza, di pemakaman militer Mount Herzl di Yerusalem, 27 April 2025.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Seorang pembocor rahasia (whistleblower) dari militer Israel membongkar keberadaan kebijakan de facto untuk mengkriminalisasi warga Palestina yang tewas dalam operasi genosida di Gaza. Upaya merekayasa tuduhan ini dilakukan secara retrospektif untuk membenarkan tindakan militer setelah serangan terjadi.

Prajurit yang dihubungkan dengan majalah The Independent melalui organisasi veteran Israel, Breaking the Silence, menggambarkan praktik tersebut sebagai "pembingkaian ulang secara retrospektif" (retrospective reframing).

Baca Juga

Berdasarkan kesaksiannya, mekanisme ini diaktifkan terutama setelah serangan berskala besar yang menelan banyak korban jiwa sipil, atau serangan terhadap lokasi-lokasi sensitif dan dilindungi seperti rumah sakit dan sekolah.

"Ketika (militer) menyadari ada krisis, mereka berusaha menghubungkan orang-orang yang tewas atau terluka dengan Hamas," kata pembocor rahasia itu kepada The Independent.

"Sebab jika mereka bisa mengklaim bahwa orang-orang yang tewas itu adalah teroris Hamas, hal itu akan terlihat lebih baik di mata dunia," ujarnya. "Mekanisme ini mereka sebut sebagai pembingkaian ulang retrospektif."

photo
Warga membawa jenazah tiga jurnalis yang syahid akibat serangan udara Israel di Rumah Sakit Nasser, Khan Yunis, Gaza Selatan, Rabu (21/1/2026). Israel kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Gaza yang mengakibatkan 11 orang syahid, dimana 3 diantaranya adalah jurnalis. Para jurnalis tersebut tewas ketika serangan udara Israel menargetkan kendaraan mereka di Jalur Gaza tengah. - (EPA/HAITHAM IMAD)

Pengendali narasi

Veteran tersebut menggambarkan adanya tekanan luar biasa di internal militer Israel untuk membela tindakan mereka di hadapan publik setiap kali serangan kontroversial terjadi."Ini adalah alat untuk mengendalikan narasi dan memutarnya seolah-olah mereka adalah pihak yang baik,"kata dia.

Ia juga menyoroti ketergantungan media massa internasional terhadap pernyataan-pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh militer Israel."Media internasional sangat bergantung pada pesan dan pengumuman dari IDF (militer Israel)... pengumuman itu biasanya menyebar ke seluruh dunia, jadi itulah hal terbaik yang bisa mereka lakukan untuk mengamankan narasi."

Organisasi Breaking the Silence menyatakan, kesaksian prajurit tersebut sejalan dengan laporan dan kesaksian lain yang dikumpulkan oleh organisasi mereka.

Direktur Eksekutif Breaking the Silence, Nadav Weiman, menegaskan bahwa aturan keterlibatan (rules of engagement) militer Israel dan apa yang ia sebut sebagai "prosedur de facto kriminalisasi retroaktif" telah berfungsi sebagai "pembenaran otomatis atas setiap peluru, artileri, atau rudal yang ditembakkan," sekaligus menjadi cara untuk menghindari penyelidikan yang independen dan jujur.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi