REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON Perang Amerika Serikat terhadap Iran yang semula diperkirakan berlangsung singkat dan menentukan kini berubah menjadi konflik berkepanjangan yang menguras sumber daya.
Situasi ini semakin menekan kemampuan militer Amerika sekaligus meningkatkan biaya politik dan ekonomi perang.
Di sisi lain, Teheran dinilai memperoleh keuntungan dari semakin panjangnya konflik dan mampu memanfaatkan sejumlah titik lemah Amerika Serikat.
Pakar pertahanan sekaligus koresponden perang Robert Fox, dalam sebuah artikel di situs Inggris iPaper, dikutip Aljazeera, Selasa (1/8/2026), mengatakan serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Lark, Iran, menandai kembalinya pertempuran terbuka setelah situasi relatif tenang sejak Juli.
Fox menyebut perang yang semula diperkirakan tidak akan berlangsung lebih dari enam pekan kini telah memasuki bulan ketujuh tanpa adanya penyelesaian damai yang dapat diandalkan.
Serangan tersebut juga langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak naik sekitar 2 persen, setelah serangan kembali memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut Fox, serangan Amerika terjadi hanya empat hari setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz telah bebas dari ranjau dan jalur pelayaran kembali terbuka. Iran menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan yang terang-terangan.
Fox menilai Teheran telah menyadari nilai strategis penguasaan Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperlima ekspor energi global melintasinya.