Rabu 26 Aug 2026 06:12 WIB

Pelayaran Lumpuh, Peserta Muktamar NU Asal Bawean Terpaksa Bayar Pesawat Mahal

Salah satu pilihan yang tersedia adalah menggunakan pesawat.

Rep: Muhyiddin/ Red: Muhammad Hafil
Suasana di Pelabuhan Bawean (ilustrasi).
Foto: ANTARA/Rizal Hanafi
Suasana di Pelabuhan Bawean (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,GRESIK -- Peserta Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 asal Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, terpaksa menggunakan pesawat untuk menuju lokasi muktamar di Jombang. Pilihan tersebut diambil setelah layanan pelayaran dari Bawean menuju Gresik lumpuh akibat cuaca buruk.

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean, KH Fauzi Rauf mengatakan, kondisi tersebut membuat peserta muktamar dari Pulau Bawean harus mencari alternatif transportasi lain agar dapat menghadiri agenda akbar NU tersebut.

Baca Juga

Menurut Kiai Fauzi, salah satu pilihan yang tersedia adalah menggunakan pesawat Susi Air dari Bandara Harun Thohir Bawean menuju Bandara Trunojoyo, Sumenep. Namun, biaya penerbangan yang harus dikeluarkan peserta mencapai sekitar Rp 600 ribu untuk sekali perjalanan. Sedangkan jika naik kapal, biayanya Rp 250 ribu.

"Karena kapal tidak bisa berlayar akibat cuaca buruk, peserta dari Bawean terpaksa menggunakan pesawat Susi Air. Biayanya sekitar Rp 600 ribu," ujar Kiai Fauzi kepada Republika.co.id, Selasa (25/8/2026).

Ia menyayangkan kondisi tersebut karena masih banyak warga NU di Bawean yang ingin berangkat dan turut meramaikan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

"Masih banyak warga NU Bawean yang ingin berangkat ke Muktamar. Tetapi kondisi pelayaran yang lumpuh tentu menjadi kendala bagi mereka," ucapnya.

Ia berharap pemerintah Kabupaten Gresik dapat segera mencari solusi dengan menambah armada kapal yang melayani rute Bawean-Gresik. Penambahan armada dinilai penting, terutama ketika terjadi gangguan pelayaran akibat kondisi cuaca.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi