REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Setiap musim panas, Israel menggelar sebuah forum diskusi strategis yang mempertemukan para mantan kepala staf militer, pensiunan kepala badan intelijen, menteri aktif, pemimpin partai politik, serta para peneliti dan pakar senior. Mereka membahas berbagai persoalan paling mendesak yang tengah dihadapi Israel.
Forum tersebut berlangsung dalam Konferensi Keamanan Nasional yang diselenggarakan oleh Institute for National Security Studies (INSS), salah satu lembaga pemikir strategis paling terkemuka dan berpengaruh di Israel, khususnya di kalangan pengambil kebijakan keamanan.
Untuk memahami pentingnya konferensi ini, terlebih dahulu perlu diketahui latar belakang lembaga yang berada di balik penyelenggaraannya, termasuk posisinya dalam lingkaran keamanan nasional Israel.
Setelah itu, barulah kita dapat melihat berbagai isu utama yang dibahas dalam konferensi terbaru yang digelar pada akhir Juli 2026.
Konferensi tersebut terdiri atas 17 sesi yang membahas berbagai tantangan keamanan, dengan perhatian khusus pada pemetaan ancaman yang diperkirakan akan dihadapi Israel dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.
Institut Studi Keamanan Nasional Israel lahir dalam konteks evaluasi besar-besaran setelah Perang Oktober 1973.
Saat itu berkembang keyakinan di Israel bahwa salah satu penyebab utama kegagalan memprediksi serangan pada awal perang adalah tidak adanya lembaga independen di luar institusi militer dan keamanan yang bertugas menguji berbagai asumsi yang menjadi dasar penilaian pemerintah dan militer mengenai keamanan nasional.
Dari sinilah muncul gagasan untuk membentuk sebuah pusat kajian strategis yang independen di bawah Universitas Tel Aviv. Lembaga tersebut diharapkan dapat menghasilkan penilaian secara mandiri serta menguji dan mengkritisi asumsi-asumsi yang digunakan oleh institusi keamanan.
Tugas mendirikan lembaga tersebut dipercayakan kepada pensiunan Mayor Jenderal Aharon Yariv, mantan kepala Direktorat Intelijen Militer Israel, Aman.