Senin 10 Aug 2026 07:44 WIB

Netanyahu Tolak Dokumen 15 Poin, akankah Gaza Kembali Dilanda Perang?

Hamas setuju menyerahkan senjata selama Israel menarik pasukan.

Poster bergambar PM Israel Benjamin Netanyahu terlihat diinjak massa peserta aksi solidaritas Indonesia Lawan Genosida, Dukung Palestina Merdeka di Jakarta, Ahad (12/10/2025). Massa aksi mengutuk segala bentuk genosida terhadap warga Gaza yang dilakukan Israel serta menyuarakan kemerdekaan dan gencatan senjata yang permanen di Palestina.
Foto: Edwin Putranto/Republika
Poster bergambar PM Israel Benjamin Netanyahu terlihat diinjak massa peserta aksi solidaritas Indonesia Lawan Genosida, Dukung Palestina Merdeka di Jakarta, Ahad (12/10/2025). Massa aksi mengutuk segala bentuk genosida terhadap warga Gaza yang dilakukan Israel serta menyuarakan kemerdekaan dan gencatan senjata yang permanen di Palestina.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali membawa isu perang di Gaza ke titik ketegangan baru setelah menyatakan penolakannya terhadap dokumen 15 poin mengenai Gaza.

Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel tidak akan melakukan penarikan pasukan sebelum Hamas dilucuti sepenuhnya.

Baca Juga

Sikap tersebut bertolak belakang dengan pernyataan Hamas yang menegaskan tetap berpegang pada peta jalan dan hasil perundingan dengan para mediator.

Perbedaan sikap itu membuka peluang munculnya krisis baru yang dapat mengancam proses gencatan senjata dan kelanjutan tahap kedua kesepakatan.

Di sisi lain, sebagaimana dilaporkan Aljazeera, Senin (10/8/2026), Hamas tetap berpegang pada hasil yang telah dicapai bersama para mediator dan Dewan Perdamaian mengenai peta jalan untuk melanjutkan pelaksanaan tahap kedua.

Hamas menegaskan keseriusannya untuk terlibat dalam penerapan kesepakatan yang telah dicapai dalam 15 poin tersebut, termasuk menyusun jadwal pelaksanaannya.

Menurut Hamas, prioritas utama saat ini adalah memastikan kesepakatan dilaksanakan sesuai seluruh tahapan dan kewajibannya hingga tercapai gencatan senjata secara menyeluruh.

Penulis sekaligus analis politik Iyad Al-Qara menilai sikap Netanyahu merupakan semacam pembalikan arah terhadap proses negosiasi yang telah berlangsung sekitar tiga bulan.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi