REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM — Pada tanggal 26 Juli dini hari, ketenangan di wilayah pendudukan Tepi Barat kembali terusik. Pihak pendudukan ilegal, yang didukung oleh pasukan Israel, melancarkan serangan yang menyasar desa-desa Palestina.
Di Qusra, sebuah desa di kegubernuran Nablus, Masjid Al-Rahma yang baru dibangun dibakar. Dinding-dindingnya dicoreti grafiti berbahasa Ibrani yang menuntut pembalasan.
Di Desa Kur yang tak jauh dari situ, para pemukim Yahudi menyerbu desa dan membakar sebuah masjid, menyebabkan kerusakan sebagian pada bangunan serta bagian dalamnya. Serangan-serangan ini terjadi di tengah eskalasi kekerasan yang lebih luas oleh penjajah di seluruh Tepi Barat, dikutip dari laman Anadolu Agency, Kamis (6/8/2026).
Upaya Israel menargetkan masjid bukanlah taktik baru. Selama satu dekade terakhir, pihak pendudukan ekstremis Israel dan pasukan keamanan telah meningkatkan serangan secara drastis terhadap masjid-masjid Palestina di seluruh wilayah pendudukan Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Menurut data dari Armed Conflict Location and Event Data Project (ACLED) dan Anadolu, tercatat ada 62 insiden yang melibatkan masjid antara tahun 2017 hingga pertengahan tahun 2026.
Analisis data yang dihimpun oleh ACLED juga menunjukkan bahwa serangan terhadap masjid-masjid Palestina telah meningkat secara signifikan selama satu dekade terakhir, dengan lonjakan tajam terutama setelah bulan Oktober 2023.