REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Mengapa ada orang yang bergelimang harta, jabatan, dan berbagai kesenangan dunia, tetapi hidupnya tetap terasa hampa?
Sebaliknya, mengapa ada orang yang hidup sederhana, namun wajahnya memancarkan ketenangan dan kebahagiaan?
Pertanyaan ini telah dijawab dengan sangat mendalam oleh Ibn al-Qayyim. Menurut dia, manusia sering keliru memahami hakikat kenikmatan. Banyak orang mengira bahwa kenikmatan terbesar adalah harta, makanan, kekuasaan, atau syahwat.
Padahal, semua itu hanyalah kenikmatan yang sementara, bahkan sebagian justru dapat menjadi jalan menuju kesengsaraan.
Dalam kitab al-Jawab al-Kafi li Man Sa'ala 'an ad-Dawa' asy-Syafi, Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kenikmatan dunia terbagi menjadi tiga macam.
Pertama, kenikmatan yang mengantarkan ke surga
Jenis pertama adalah kenikmatan yang membawa seseorang kepada kenikmatan akhirat. Inilah kenikmatan yang paling tinggi, paling sempurna, dan paling dicintai Allah.
Seorang mukmin tidak hanya mendapatkan pahala dari ibadah mahdhah seperti shalat dan puasa.
Bahkan perkara-perkara mubah seperti makan, minum, berpakaian, bekerja, mencari nafkah, hingga hubungan suami istri dapat berubah menjadi ibadah apabila diniatkan untuk mencari ridha Allah.