REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Hujan merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah Ta'ala karuniakan kepada makhluk-Nya.
Dengan turunnya hujan, bumi yang kering menjadi subur, tanaman tumbuh menghijau, ternak memperoleh kecukupan, dan kehidupan manusia berlangsung dengan baik.
Alquran tidak hanya menjelaskan bahwa hujan adalah rahmat dari Allah SWT, tetapi juga menerangkan sebab-sebab yang dapat mendatangkan keberkahan tersebut. Pada hakikatnya, rezeki berada di tangan Allah semata.
Dia melapangkan atau menyempitkannya sesuai dengan hikmah dan kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya. Allah SWT berfirman:
وَلَوْ بَسَطَ ٱللَّهُ ٱلرِّزْقَ لِعِبَادِهِۦ لَبَغَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن يُنَزِّلُ بِقَدَرٍۢ مَّا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ بِعِبَادِهِۦ خَبِيرٌۢ بَصِيرٌۭ ٢٧
"Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat." (QS Asy-Syura: 27)
Menariknya, setelah ayat tersebut Allah langsung menyebutkan tentang turunnya hujan:
وَهُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ مِنۢ بَعْدِ مَا قَنَطُوا۟ وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُۥ ۚ وَهُوَ ٱلْوَلِىُّ ٱلْحَمِيدُ ٢٨
"Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa, dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung, Maha Terpuji." (QS Asy-Syura: 28)