REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Thailand harus meningkatkan fasilitas dan layanan ramah Muslim, menerapkan sistem akreditasi yang diakui, dan memastikan kebijakan yang lebih jelas dan konsisten untuk menarik lebih banyak wisatawan Muslim. Hal tersebut disampakan seorang spesialis pariwisata.
Indeks Pariwisata Muslim Global 2026 dari Crescent Rating dan Mastercard menunjukkan Thailand berada di peringkat kelima di antara destinasi di luar Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), turun dari peringkat kedua selama periode 2015-2019.
Kepala eksekutif CrescentRating dan HalalTrip, Fazal Bahardeen mengatakan penurunan tersebut mencerminkan persaingan yang lebih ketat sehingga Thailand kehilangan posisi, karena destinasi lain mempercepat upaya untuk menarik wisatawan Muslim.
Kinerja Thailand tetap relatif stabil selama dekade terakhir, dengan skornya meningkat dalam beberapa tahun terakhir seiring dengan penguatan infrastruktur pariwisata pasca-pandemi di negara tersebut, katanya, dikutip dari laman Bangkok Pos, Rabu (29/7/2026)
Peringkat tersebut mencerminkan persaingan yang lebih ketat dari destinasi seperti Hong Kong dan Taiwan, yang telah melakukan investasi signifikan dalam layanan ramah Muslim, standar perhotelan, dan pengalaman pengunjung.
Di antara destinasi non-OKI, Singapura mempertahankan posisi teratas dengan 73 poin dari 100. Hong Kong naik ke posisi kedua dengan 64 poin, sementara Taiwan dan Inggris berbagi tempat ketiga dengan 59 poin. Thailand mencetak 58 poin, mempertahankan posisi kelima dari tahun sebelumnya.
Kedatangan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta pada tahun 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 262 juta pada tahun 2030, menurut CrescentRating. Asia mencatat lebih dari 128 juta kedatangan wisatawan Muslim tahun lalu.
Pendorong pertumbuhan utama termasuk meningkatnya permintaan dari wisatawan Muslim muda dan meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih personal.
"Thailand tetap menjadi destinasi yang sangat menarik bagi wisatawan Muslim, tetapi mempertahankan posisi kepemimpinannya akan membutuhkan investasi berkelanjutan dan pendekatan terstruktur untuk memperkuat ekosistem pariwisata ramah Muslimnya," kata Bahardeen.
"Seiring semakin banyak destinasi yang menyadari nilai pasar perjalanan Muslim, tolok ukur kompetitif terus meningkat," tambahnya.
Salah satu kelemahan Thailand adalah kesenjangan antara kesiapan fisik dan visibilitas digital. Meskipun banyak hotel dan bisnis pariwisata menawarkan fasilitas ramah Muslim, fasilitas tersebut belum cukup dipromosikan atau diverifikasi.
Akibatnya, platform perjalanan berbasis AI tidak dapat mengidentifikasi atau mempercayai penawaran ini, sehingga tidak termasuk dalam perencanaan perjalanan otomatis.
Ia mendesak operator untuk mengadopsi standar dan akreditasi yang diakui untuk memperkuat kepercayaan di antara wisatawan Muslim global.
Ketidakpastian Kebijakan
Laporan tersebut mencatat bahwa perubahan kebijakan Thailand yang sering terjadi menciptakan ketidakpastian bagi wisatawan dan operator pariwisata.
Awal tahun ini, muncul kebingungan mengenai apakah skema bebas visa 60 hari masih berlaku, kapan aturan yang direvisi akan diperkenalkan, dan bagaimana petugas imigrasi akan menafsirkan kunjungan berulang.
Sebagian besar negara yang memenuhi syarat kini diharapkan menerima masa tinggal bebas visa 30 hari, meskipun tanggal pemberlakuannya belum diumumkan.
Laporan tersebut mengatakan bahwa perubahan peraturan, penegakan hukum yang tidak konsisten, dan kekhawatiran tentang pengunjung yang tinggal lama menggarisbawahi perlunya komunikasi yang lebih jelas, stabilitas kebijakan yang lebih besar, dan sistem visa digital yang transparan.
Bapak Bahardeen mengatakan kekuatan Thailand termasuk mengintegrasikan persyaratan berbasis agama ke dalam sektor perhotelannya dan suasana kuliner halal yang semarak di Bangkok dan provinsi-provinsi selatan.
Thailand juga telah menarik banyak pengunjung dari pasar mayoritas Muslim seperti Malaysia dan Timur Tengah.
Ia mengatakan negara tersebut harus terus memperluas fasilitas ramah Muslim, menstandarisasi layanan, dan meningkatkan pelatihan staf.
Negara tersebut juga harus menawarkan pengalaman perjalanan yang lebih disesuaikan yang didukung oleh kemudahan digital dan layanan ramah halal.
Namun, Thailand harus memperluas akreditasi pihak ketiga yang kredibel untuk pariwisata ramah Muslim di seluruh rantai pasokannya, karena ini akan memperkuat kepercayaan wisatawan dan membantu menghasilkan lebih banyak pemesanan.