REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII menerbitkan "Tausiyah Amanah Kepemimpinan Umat, Bangsa, dan Negara" yang berisi 11 agenda strategis sebagai rekomendasi bagi pemerintah, lembaga negara, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh komponen bangsa. Taujihat tersebut dibacakan Ketua Bidang Fatwa dan Metodologi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Gusrizal Gazahar Datuak Palimo Basa, pada penutupan KUII VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Ahad (26/7/2026) malam.
"Peserta kongres telah membahas dan memusyawarahkan secara mendalam, kritis, konstruktif, dan memberikan solusi dengan memohon rida dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyampaikan Tausiyah Amanah Kepemimpinan Umat, Bangsa, dan Negara," kata Gusrizal.
Hasil pembahasan itu kemudian dituangkan dalam tausiyah yang memuat 11 rekomendasi utama. Berikut poin-poin Taujihat KUII VIII:
Pertama, kongres merekomendasikan reaktualisasi ekonomi Pancasila dan ekonomi syariah sebagai arus utama pembangunan nasional. Langkah konkret yang diusulkan antara lain pembentukan dana tata syariah, penguatan koperasi, UMKM, dan pesantren, reforma agraria, perlindungan aset negara, kedaulatan teknologi, hingga reformasi birokrasi yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Kedua, kongres mengusulkan pembentukan badan ekonomi syariah sebagai lembaga negara yang menjadi pusat pengembangan sistem, ekosistem, bisnis, dan investasi syariah. Lembaga tersebut diharapkan mampu memperkuat daya saing umat dalam menghadapi bonus demografi dan menyongsong Indonesia Emas 2045.
View this post on Instagram