Kamis 23 Jul 2026 09:17 WIB

PWNU Jatim Usung Cicit KH Hasyim Asy'ari Jadi Ketum PBNU

Kiai Kikin ingin mengembalikan tata kelola NU kepada semangat Qanun Asasi.

Rep: Muhyiddin/ Red: A.Syalaby Ichsan
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz memberikan sambutan saat Mujahadah Kubro dalam rangka hari lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad (8/2/2026). Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 atau Satu Abad Masehi tersebut mengangkat tema Memperkokoh Jamiyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban.
Foto: Dok Biro Pers Presiden RI
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz memberikan sambutan saat Mujahadah Kubro dalam rangka hari lahir Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, Ahad (8/2/2026). Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-100 atau Satu Abad Masehi tersebut mengangkat tema Memperkokoh Jamiyah, Tradisi, Kontribusi dalam Mengembangkan Peradaban.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur resmi menugaskan Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Abdul Hakim Mahfudz atau Kiai Kikin sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 pada Muktamar ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, 27-31 Agustus 2026.

Penugasan terhadap pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, itu merupakan hasil rapat Syuriyah dan Tanfidziyah PWNU Jatim yang kemudian mendapat dukungan mayoritas pengurus cabang. Sebanyak 42 dari 45 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Timur menyatakan dukungannya dalam rapat koordinasi PWNU dan PCNU se-Jatim di Surabaya. 

Baca Juga

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Abdul Matin Djawahir menegaskan penugasan tersebut merupakan keputusan kolektif organisasi, bukan keinginan pribadi maupun kelompok tertentu.”Penugasan Kiai Kikin itu bukan kehendak PWNU atau pribadi, tapi kesepakatan dalam beberapa kali rapat harian PWNU dan rapat koordinasi dengan PCNU kali ini juga sepakat untuk satu barisan," ujar Kiai Matin dalam keterangan pers yang diterima pada Kamis (23/7/2026).

photo
Sejumlah santri menunggu kedatangan Presiden Perbowo Subianto saat penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) di IAI Syachona Mohammad Cholil, Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). - (ANTARA FOTO/Moch Asim)

Menurut dia, Kiai Kikin yang merupakan cicit KH Hasyim Asy'ari memenuhi sejumlah kriteria kepemimpinan yang dibutuhkan NU. Selain berasal dari dzurriyah pendiri NU, Kiai Kikin memiliki pengalaman panjang di tingkat PBNU maupun PWNU, aktif dalam kaderisasi, mengelola pesantren, serta memiliki pengalaman di bidang usaha.

Kiai Matin mengatakan, pengalaman tersebut membuat Kiai Kikin dinilai mampu membangun organisasi secara profesional tanpa dibebani kepentingan pribadi. Ia menambahkan, Kiai Kikin juga memiliki komitmen mengembalikan tata kelola organisasi NU kepada semangat Qanun Asasi yang dirumuskan Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.

"Beliau memiliki pengalaman yang lengkap dalam organisasi, kaderisasi, pesantren, bisnis, jadi secara ekonomi juga sudah selesai, sehingga tidak memikirkan untung dalam organisasi, tapi justru memikirkan upaya menghidupkan organisasi menjadi modern berbasis moralitas dan kebangsaan. Sosoknya juga teduh, tidak gaduh, dan mementingkan ukhuwah,”kata dia.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi