Selasa 21 Jul 2026 17:44 WIB

PBNU Dorong Pendidikan Kesehatan Reproduksi untuk Lindungi Santri dari Kekerasan Seksual

Pencegahan kekerasan seksual tidak cukup dilakukan melalui penegakan aturan.

Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026).
Foto: Erdy Nasrul/Republika
Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendorong penerapan pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pesantren sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang pendidikan yang aman dan mencegah kekerasan seksual terhadap santri.

Komitmen tersebut disampaikan melalui Gerakan Maslahat Keluarga Nahdlatul Ulama (GKMNU) dalam Halaqah Implementasi Pendidikan Kesehatan Reproduksi Santri di Pondok Pesantren KHAS Kempek, Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/7/2026). Kegiatan itu diikuti para pengasuh pesantren dari Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Baca Juga

Ketua PBNU Bidang Kesejahteraan Masyarakat Alissa Qatrunnada Wahid mengatakan meningkatnya kasus kekerasan di lingkungan pesantren, termasuk kekerasan seksual, menjadi salah satu alasan penting penyelenggaraan halaqah tersebut.

“Kita ingin segera mengantisipasi dan mempersiapkan ekosistem pesantren agar pemahaman terkait kesehatan reproduksinya lebih baik sehingga kita bisa menanggulangi persoalan kekerasan seksual yang ada di pesantren,” kata Alissa.

Menurut Alissa, pencegahan kekerasan seksual tidak cukup dilakukan melalui penegakan aturan. Upaya tersebut perlu disertai pendidikan yang membangun pemahaman santri mengenai tubuh, kesehatan, batasan pribadi, serta fungsi reproduksi sejak dini.

Ia menilai masih banyak masyarakat yang memahami kesehatan reproduksi secara sempit. Istilah tersebut kerap dianggap hanya berkaitan dengan perilaku seksual, padahal ruang lingkupnya juga mencakup kesehatan remaja, anemia, keselamatan ibu dan bayi, serta kesiapan menjadi orang tua.

“Selama ini banyak pemahaman yang salah terkait kesehatan reproduksi. Dikira kesehatan reproduksi itu melulu hanya soal perilaku seksual, padahal kesehatan reproduksi juga bicara angka kematian ibu, bayi, dan anak,” ujar Alissa.

“Kemudian juga berbicara mengenai anemia pada anak-anak muda yang akan memengaruhi proses reproduksinya ketika nanti sudah menikah,” lanjutnya.

Alissa menegaskan pendidikan kesehatan reproduksi berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda. Pendidikan tersebut antara lain dapat digunakan untuk mencegah anemia, mempersiapkan remaja menjadi calon orang tua yang sehat, serta menekan risiko kematian ibu dan bayi.

Karena itu, ia berharap pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi tidak lagi dianggap tabu di lingkungan pesantren. Pendidikan tersebut justru perlu menjadi bagian dari ikhtiar membangun pesantren yang sehat, aman, dan mampu melindungi santri dari berbagai bentuk kekerasan.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi