Selasa 14 Jul 2026 11:35 WIB

Seorang Remaja Diperkosa 27 Pria, PBNU: Ini Alarm Krisis Akhlak

Ada persoalan serius dalam pendidikan generasi muda.

Ilustrasi Korban Kekerasan Seksual
Foto: republika/mardiah
Ilustrasi Korban Kekerasan Seksual

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Keagamaan, KH Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur merespons kasus dugaan kekerasan seksual terhadap seorang remaja berusia 15 tahun di Sampang, Jawa Timur, yang diduga dilakukan oleh 27 pria. Menurut dia, kasus rudupaksa atau pemerkosaan tersebut merupakan tragedi kemanusiaan sekaligus alarm krisis akhlak yang harus menjadi perhatian seluruh elemen bangsa.

Menurut Gus Fahrur, kasus tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai tindak pidana semata. Penegakan hukum yang tegas dan berpihak kepada korban tetap harus dilakukan, namun upaya pencegahan melalui penguatan pendidikan karakter dan akhlak dinilai jauh lebih penting. 

Baca Juga

"Kita menyampaikan empati yang mendalam kepada korban dan keluarganya serta mendukung penegakan hukum yang tegas, adil, dan berpihak kepada korban," ujar Gus Fahrur dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).

Ia mengatakan, peristiwa tersebut menunjukkan adanya persoalan serius dalam pembinaan generasi muda. Menurut dia, anak-anak tidak dilahirkan sebagai pelaku kejahatan, tetapi dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, pergaulan, dan nilai-nilai yang mereka serap dalam kehidupan sehari-hari.

photo
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi yang akrab disapa Gus Fahrur, mengatakan bahwa mendukung penuh langkah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir, yang bekerja sama dengan Kejaksaan Agung (Kejagung) dalam upayanya melakukan bersih-bersih terhadap perusahaan pelat merah dari para koruptor. - (PBNU)

"Ketika remaja kehilangan arah, maka yang harus kita perbaiki bukan hanya perilakunya, tetapi juga ekosistem pendidikan dan pembinaan yang mengelilinginya," ucap dia.

Gus Fahrur menyoroti tantangan pembentukan karakter di era digital. Menurut dia, penggunaan gawai tanpa pengawasan, paparan konten yang merusak, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba dan minuman keras, hingga pudarnya rasa malu menjadi ancaman nyata bagi perkembangan moral generasi muda.

Karena itu, ia menegaskan pendidikan akhlak harus kembali menjadi prioritas utama. Peran keluarga, kata dia, merupakan fondasi pertama dalam membentuk karakter anak.

"Keluarga adalah madrasah pertama. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi anak, tetapi juga wajib menghadirkan kasih sayang, pengawasan, keteladanan, dan komunikasi yang hangat. Anak-anak perlu mengetahui bahwa mereka dicintai sekaligus dibimbing dengan aturan yang jelas,"tegas dia.

 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi