Jumat 10 Jul 2026 07:39 WIB

Panel Surya Baznas Akhiri Penantian Dua Dekade Warga Desa di Indramayu yang Hidup tanpa Listrik

Melalui dana zakat, warga diharapkan memperoleh penerangan yang layak.

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: A.Syalaby Ichsan
Kerumunan warga menjelang lampu bertenaga panel surya dinyalakan pertama kalinya dalam acara seremoni peluncuran Program Rumah Terang Baznas di Kampung Pasir Torog, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Kamis (9/7/2026).
Foto: Republika/Fuji Eka Permana
Kerumunan warga menjelang lampu bertenaga panel surya dinyalakan pertama kalinya dalam acara seremoni peluncuran Program Rumah Terang Baznas di Kampung Pasir Torog, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Kamis (9/7/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU — "Hidup Baznas! Hidup Baznas! Hidup Baznas!" seruan itu menggema dari warga saat senja mulai berganti malam, ketika lampu-lampu bertenaga surya untuk pertama kalinya menyala di rumah-rumah mereka, mengakhiri lebih dari dua dekade kehidupan tanpa aliran listrik.

Selama puluhan tahun, malam di Kampung Grabyag, Pasir Torog dan Cagak Dua, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, selalu datang bersama kegelapan. Sebanyak 102 keluarga di tiga kampung tersebut hidup tanpa aliran listrik. Saat sebagian besar masyarakat Indonesia menikmati terang lampu dan kemajuan teknologi, mereka masih mengandalkan lampu cempor untuk menerangi rumah pada malam hari.

Baca Juga

Akses menuju kampung pun masih berupa jalan tanah yang berubah licin dan sulit dilalui setiap kali hujan turun, kondisi tersebut menghadirkan potret keterisolasian yang seolah membawa waktu kembali ke masa-masa awal kemerdekaan.

Kini, malam-malam yang dahulu hanya diterangi lampu cempor berganti cahaya lampu listrik. Berkat Program Rumah Terang yang digagas Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, sebanyak 102 keluarga di kawasan lahan perhutani itu akhirnya dapat menikmati aliran listrik melalui instalasi panel surya.

Bagi Alfiah (37 tahun), cahaya lampu listrik merupakan kemewahan yang baru bisa ia rasakan setelah 24 tahun menetap di Kampung Pasir Torog. Ibu empat anak itu mulai tinggal di kawasan tersebut pada 2002, ketika wilayah itu masih didominasi hutan dan hanya dihuni segelintir keluarga.

"Saya tinggal di sini sudah lama, dari tahun 2002. Dulu warga masih sedikit, di sini masih hutan," ujar Alfiah saat berbincang dengan Republika di Kampung Pasir Torog saat pertama kalinya lampu menyala di rumahnya, Kamis (9/7/2026) malam.

Selama lebih dari dua dekade, Alfiah bersama suaminya membangun kehidupan dari nol. Kini mereka memiliki sawah sendiri, meski ada keterbatasan sumber air yang membuat sawah mereka hanya dapat ditanami saat musim hujan sehingga panen umumnya hanya berlangsung sekali dalam setahun.

"Kalau ingin panen dua kali setahun tidak bisa karena tidak ada air. Untuk mandi saja kami sering kesulitan air," kata dia.

photo
(Kiri ke kanan) Pimpinan Baznas RI Idy Muzayyad (bertopi merah), Rizaludin Kurniawan (mengenakan rompi dan bertopi), dan Ketua Baznas RI Sodik Mudjahid (sedang berbicara) di Kampung Pasir Torog, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu saat seremoni peluncuran Program Rumah Terang Baznas, Kamis (9/7/2026). - (Republika/Fuji Eka Permana)

Berita Lainnya

Rekomendasi