REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV— Memasuki lebih dari 1.000 hari sejak perang berlangsung, media-media Israel dari berbagai spektrum politik memberikan perhatian luas terhadap momentum yang mereka sebut sebagai hari yang simbolis sekaligus menyakitkan bagi masyarakat Israel.
Liputan yang disajikan tidak sekadar memuat data dan statistik, tetapi berubah menjadi evaluasi terbuka terhadap strategi perang Israel.
Berbagai analis militer, pengamat politik, hingga pakar keamanan hampir sepakat bahwa terdapat jurang yang sangat lebar antara "keberhasilan taktis" yang diraih militer di medan tempur dengan kegagalan strategis dan politik dalam mewujudkan tujuan yang ditetapkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, terutama target yang disebutnya sebagai "kemenangan mutlak".
Dalam berbagai kajian kritis mengenai perkembangan perang, sejumlah kalangan intelektual dan tokoh militer Israel mulai memperingatkan dampak moral dan struktural yang dinilai mengancam institusi militer negara tersebut.
Peneliti strategi Shmuel Meir, misalnya, menyoroti apa yang disebutnya sebagai kemerosotan moral yang kini dianggap menjadi ancaman nyata bagi tentara Israel.
Mengacu pada berbagai analisis militer, terutama tulisan analis senior Amos Harel dalam rangkuman bertajuk "Perang Seribu Hari", kebijakan pembalasan yang diterapkan secara sistematis di Jalur Gaza dinilai telah mengakibatkan jatuhnya korban sipil dalam jumlah sangat besar.
Berdasarkan data yang disebutkan dalam analisis tersebut, sekitar dua pertiga dari hampir 72 ribu korban jiwa warga Palestina merupakan penduduk sipil yang tidak terlibat dalam pertempuran.
Menurut penulis, dilansir Aljazeera, Selasa (7/7/2026), kemerosotan nilai tersebut kini tidak lagi hanya menjadi kritik dari pihak luar, melainkan telah berubah menjadi pengakuan dari dalam Israel sendiri bahwa pola operasi militer yang dijalankan berpotensi mengancam identitas dan karakter institusional angkatan bersenjata.
Berbagai program dialog politik di televisi Israel memperlihatkan suasana pesimisme yang sangat kontras dengan optimisme yang sempat muncul pada hari-hari pertama perang.