Senin 06 Jul 2026 16:07 WIB

Koridor Rel Kereta Baru Turki: Ancaman Senyap terhadap Posisi Strategis Israel??

Koridor baru Turki akan menghilangkan peran Israel dalam jalur perdagangan.

Ilustrasi kereta api di Turki.
Foto: tangkapan layar
Ilustrasi kereta api di Turki.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA— Peta kawasan Timur Tengah terkadang berubah bukan karena deru pesawat tempur atau dentuman rudal, melainkan oleh rel kereta api yang membelah gurun, pelabuhan yang terbuka ke Laut Merah, atau jalur kereta bersejarah yang dihidupkan kembali.

Infrastruktur semacam itu dapat mengubah posisi strategis sebuah negara dalam percaturan kawasan.

Baca Juga

Dalam konteks itulah Israel memandang dengan semakin cemas langkah-langkah Turki, Arab Saudi, dan Suriah yang berupaya membangun kembali koridor perdagangan dan energi yang tidak lagi bergantung pada wilayah Israel.

Perkembangan ini terjadi ketika perang melawan Iran, ancaman penutupan Selat Hormuz, serta serangan kelompok Houthi di Laut Merah mendorong negara-negara di kawasan mencari jalur alternatif bagi perdagangan global.

Koridor Biden

Ketika Koridor Ekonomi India–Timur Tengah–Eropa (India-Middle East-Europe Economic Corridor/IMEC) diumumkan dalam Konferensi Tingkat Tinggi G20 di New Delhi pada September 2023, Israel menyambutnya sebagai peluang bersejarah.

Menurut kajian yang diterbitkan Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) Israel oleh peneliti senior Yoel Guzansky, Kepala Program Teluk, bersama Galia Lindenstrauss, pakar hubungan Turki, koridor tersebut menghubungkan India dengan Eropa melalui Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Yordania, dan Israel.

Proyek ini mencakup jaringan kereta api, jalan raya, pelabuhan laut dan darat, sekaligus infrastruktur energi, komunikasi, dan transmisi data.

Studi tersebut menempatkan IMEC sebagai bagian dari persaingan strategis dengan proyek "Belt and Road Initiative" (BRI) milik China, bahkan menyebutnya sebagai salah satu proyek geoekonomi paling penting dalam satu dekade terakhir.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi